MUNGKID - Pemkab Magelang terus berupaya melakukan sinkronisasi data terkait penanganan anak tidak sekolah (ATS). Itu dilakukan menyusul temuan adanya perbedaan signifikan jumlah anak putus sekolah di Kecamatan Windusari.
Permasalahan utama yang dihadapi adalah belum seragamnya sistem pendataan. Hal itu berpotensi menyebabkan tumpang tindih. Anak-anak yang seharusnya terdata, justru terlewat.
Camat Windusari Edi Purnomo menyebut, hingga saat ini terdapat 461 anak yang teridentifikasi tidak bersekolah di wilayahnya. Angka tersebut diperoleh dari data dinas pendidikan dan kebudayaan (disdikbud) Kabupaten Magelang.
"Kami juga punya persoalan tentang ATS yang harus segera dituntaskan," tegasnya.
Sementara itu, Komisi I DPRD Kabupaten Magelang Hibatun Wafiroh menuturkan, DPRD dan Pemkab Magelang tengah fokus menyelesaikan persoalan ATS dengan menyusun basis data konkret. Menurutnya, faktor geografis, ekonomi, dan perspektif masyarakat menjadi penyebab utama rendahnya angka partisipasi sekolah.
"Ini (data) akan menjadi acuan DPRD bersama pemkab dalam mengambil kebijakan dan langkah konkret ke depan. Targetnya, tidak ada lagi anak usia sekolah yang tidak bersekolah," ujarnya. (aya)