JOGJA - Dalam upaya mempercepat peningkatan mutu eksternal perguruan tinggi, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Menggelar Sosialisasi Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 4.0 dan Sosialisasi Aplikasi SAPTO 2.0.
Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta Setyabudi Indartono menyampaikan, pentingnya perguruan tinggi untuk tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi akreditasi. Tetapi juga menjadikan mutu sebagai budaya.
"Mutu tidak dibangun semalam. Ia lahir dari konsistensi, komitmen, dan inovasi seluruh civitas akademika," katanya dalam pertemuan di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta Selasa (29/4).
Tantangan dan dinamika perguruan tinggi yang saat ini semakin kompleks, penting bagi sesama perguruan tinggi menjalin kolaborasi, serta responsif terhadap tantangan. "Dengan instrumen dan dinamika saat ini, kita semua ditantang untuk terus responsif dan bertransformasi," ujarnya.
Baca Juga: Sudah Nyaman di Rumahnya, Mbah Tupon Menolak Menginap di Rumdin Bupati Bantul
Dia berharap agar perguruan tinggi di wilayah DIY dan sekitarnya mampu mempercepat adaptasi terhadap sistem akreditasi terbaru. Serta bisa memperkuat budaya mutu pendidikan tinggi nasional.
Sementara Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Ari Purbayanto menyebut, pentingnya kesesuaian antara output perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan nasional dan global. "Akreditasi bukan hanya untuk akreditasi itu sendiri. Ia instrumen yang memastikan perguruan tinggi benar-benar menghasilkan SDM unggul yang dibutuhkan bangsa," tegas Ari.
Anggota Dewan Eksekutif BAN-PT Tjokorde Walmiki Samadhi turut memaparkan kebijakan terbaru soal akreditasi. Dalam paparannya, ia menekankan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 4.0 mengutamakan pendekatan berbasis outcome. Perguruan tinggi harus menunjukkan bukti nyata kontribusi lulusan di dunia kerja, keterkaitan program studi dengan kebutuhan masyarakat, serta dampak penelitian dan pengabdian.
Baca Juga: Demi Status World Intangible Heritage dari UNESCO DIY Disebut Kerap Menggusur, Ini Daftarnya
"Salah satu tantangan ke depan adalah menggeser fokus dari administrasi dokumen menjadi pembuktian kinerja riil institusi," terangnya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita