JOGJA - Tantangan perekonomian nasional dan global yang kian kompleks mendorong Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membentuk bidang kajian khusus untuk menangani isu kemiskinan dan ketimpangan.
Melalui Departemen Ilmu Ekonomi, FEB UGM mendirikan Equitable Transformation for Alleviating Poverty and Inequality (EQUITAS) sejak 2022.
Koordinator Bidang Kajian Pengentasan Kemiskinan dan Ketimpangan EQUITAS Wisnu Setiadi Nugroho mengatakan, tingkat kerentanan kemiskinan di Indonesia masih tergolong tinggi.
Per September 2024, jumlah penduduk miskin mencapai 24,06 juta jiwa. Angka ini memang turun dari Maret 2024 yang tercatat 25,22 juta jiwa, namun tetap mencerminkan permasalahan yang belum tuntas.
"Pada 2023 garis kemiskinan penduduk miskin lebih dari 25,89 juta jiwa, angkanya fluktuatif tinggi," katanya, Rabu (16/4/2025).
Ekonom UGM itu menjelaskan, kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua kategori yakni absolut dan relatif.
Kemiskinan absolut merujuk pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian.
Sementara kemiskinan relatif adalah, posisi relatif dari beberapa unit ekonomi, misalnya individu rumah tangga, kelompok ras, yang dibandingkan dengan unit ekonomi lainnya.
"Seseorang dapat relatif miskin tetapi tidak absolut miskin, ini benar-benar berkaitan dengan distribusi pendapatan di suatu negara," jelasnya.
Wisnu juga menyoroti fenomena sosial yang berkontribusi pada ketimpangan ekonomi.
Ia mengamati, kelompok menengah ke atas cenderung memilih child free atau memutuskan untuk tidak memiliki anak sebagai bentuk mitigasi risiko ekonomi.
Jika pun memiliki anak, maka orang kelas menengah ke atas cenderung memikirkan jumlah anak yang dimiliki
Sebaliknya, kelompok menengah ke bawah yang rentan terhadap kemiskinan justru cenderung memiliki banyak anak dan kurang memperhatikan perencanaan keuangan.
Fenomena sosial tersebut diakuinya jadi sebuah ketimpangan sosial ekonomi yang cukup signifikan berdampak terhadap angka kemiskinan di Indonesia.
"Kalau tidak diantisipasi, kita bisa menghadapi ketimpangan sosial yang lebih besar di masa depan. Kelas menengah menyusut, sementara kelompok rentan bertambah," tandasnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita