JOGJA - Menyongsong momen Lebaran yang kurang seminggu lagi, banyak universitas yang melakukan pembelajaran dengan sistem daring atau kuliah online.
Hal itu dilakukan guna menciptakan fleksibilitas, baik bagi dosen ataupun mahasiswa itu sendiri.
Dosen Prodi Kebijakan Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ariefa Efianingrum menyampaikan, pembelajaran online memang menawarkan fleksibilitas yang tidak terbatas pada pembelajaran di ruang-ruang kelas.
Era digital saat ini memungkinan perkuliahan dilakukan melalui ruang maya dari mana saja.
"Seiring dengan makin bertumbuhnya kafe-kafe dan co working space, memungkinkan juga terjadinya study from anywhere," katanya kepada Radar Jogja, Senin (24/3/2025).
Namun, hal tersebut juga memiliki tantangan. Disebutnya, agar pembelajaran lebih bermakna, para dosen harus dapat mengkreasikan pembelajaran secara inovatif, sebagaimana tertuang dalam rencana pembelajaran yang telah dirancang.
Beberapa cara yang mesti dilakukan, antara lain, meliputi metode problem based learning, case study, dan project based learning untuk menguatkan nalar kritis dan kepekaan sosial, terhadap berbagai permasalahan dalam kehidupan.
"Dengan muatan-muatan tersebut, saya kira pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna," lontarnya.
Selain pembelajaran yang harus lebih menarik, tantangan lain dari kuliah online adalah adanya kasuistik mahasiswa yang sengaja membolos, dan memanfaatkan kuota ketidakhadiran.
Ariefa menerangkan, memang ada toleransi kehadiran mahasiswa minimal 75 persen dari kehadiran selama perkuliahan setiap semester.
Selebihnya, atau 25 persen dapat ditoleransi untuk melakukan berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik di luar perkuliahan.
"Misal mahasiswa ikut kegiatan organisasi kampus, unit kegiatan mahasiswa, atau organisasi luar kampus, dan berlaga di berbagai kompetisi prestasi mahasiswa," urainya.
Namun ia juga berpesan, dalam konteks menjelang Lebaran seperti saat ini kehadiran tetap perlu dilakukan.
Apalagi banyak dosen yang memadatkan materi agar capaian pertemuan bisa tercapai.
Ia menekankan jangan sampai dengan sengaja membolos dan memanfaatkan kuota ketidakhadiran, justru malah tertinggal materi yang sebenarnya penting.
Karena, secara pola memang pertemuan di akhir seringkali bersifat tugas atau bahkan ujian yang penting.
"Pertemuan-pertemuan akhir itu seringkali penting. Jadi idealnya tetap hadir. Saat ini kan proses kuliah online tetap memungkinkan mahasiswa ikut walau sedang perjalanan mudik," pesannya.
Salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) M. Hafid mengaku menggunakan jatah ketidakhadiran kuliahnya, demi bisa mudik Lebaran lebih cepat.
"Saya pulang naik pesawat dan makin dekat Lebaran makin mahal. Kemarin beli yang agak jauh dari Lebaran, risikonya melewatkan beberapa kuliah," ungkap mahasiswa asal Bengkulu ini.
Hafid menuturkan, ia sendiri juga sudah mengantisipasi ketidakhadirannya dalam kuliah, termasuk memastikan bahwa tidak ada ujian yang dilakukan dalam periode tersebut.
"Sudah make sure, tidak ada ujian. Cuma kelewat beberapa sesi kuliah online, karena di perjalanan tidak memungkinkan untuk join," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita