Mahe membawa seabrek kegiatan, salahsatunya program bertajuk Implementasi Aplikasi DoScreen untuk Deteksi Dini Diabetes Melitus pada Pekerja Migran di Malaysia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat.
Melibatkan kolaborasi strategis antara Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia, dan Universitas Hasanuddin (Unhas).
Mahe mengungkapkan, tujuan dari program ini tidak lain memperkenalkan alat kesehatan berbasis teknologi DoScreen.
“Kali ini menyasar pada komunitas pekerja migran sebagai solusi deteksi dini risiko diabetes mellitus,” jelasnya.
Kegiatan terdiri dari berbagai agenda yang dirancang memberikan manfaat maksimal bagi pekerja migran, antara lain seminar kesehatan, workshop aplikasi, edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, dan sesi konseling.
Kegiatan ini juga melibatkan Mahasiswa Program Studi MARS untuk berkontribusi dalam pembelajaran secara langsung di Masyarakat, salah satunyaadalah keterlibatan drg Agnis Ulfah Nur Zakiyah, Sp. Ort dan Dr. dr. Made Bramantya Karna, SpOT (K) Hand sebagai pemateri pada acara Pengabdian Masyarakat ini.
Seminar kesehatan dengan tema diabetes melitus dihadiri oleh pekerja migran dari berbagai wilayah di Malaysia.
Dalam seminar tersebut, pakar farmasi Universitas Hasanuddin Prof. Andi Dian Permana, S.Si., M.Si., Ph.D., Apt memberikan materi tentang pentingnya memahami interaksi obat dan efek samping pengobatan diabetes.
Pada kesempatan tersebut, dr. Mahe memimpin workshop tentang penggunaan Aplikasi Doscreen.
Mengajarkan peserta cara memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi risiko diabetes berdasarkan pola makan, aktivitas fisik, dan riwayat kesehatan keluarga. dr. Mahe juga memperkenalkan alat pemeriksaan glukosa darah secara cepat yang disebut "Manismu Check".
Mahasiswa berperan aktif dalam program ini dengan memberikan edukasi mengenai pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik dalam mencegah diabetes.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi pengukuran gula darah, tekanan darah, dan berat badan dilakukan untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan peserta.
Aplikasi DoScreen lanjut Mahendro dikembangkan sejak 2020, telah diuji coba di beberapa Negara.
Termasuk Malaysia, Thailand, dan Taiwan. Aplikasi ini memungkinkan para pengguna dapat memantau risiko diabetes secara mandiri.
“Aplikasi ini memberikan rekomendasi pencegahan praktis berdasarkan hasil analisis data pribadi, yang sangat relevan bagi pekerja migran yang sering mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan,” ungkap pria yang akrab disapa dr Mahe itu.
dr. Mahe, menjelaskan aplikasi DoScreen sangat membantu pekerja migran dalam memantau kesehatan. Mengingat para pekerja migran sering kali memiliki keterbatasan waktu dan akses ke layanan medis.
“Alhamdulillah program ini mendapat apresiasi positif dari peserta, termasuk salah seorang pekerja migran asal Indonesia yang merasa terbantu dengan adanya aplikasi ini,” ungkapnya.
Pihak PCIA dan PCIM Malaysia juga mengapresiasi kegiatan ini dan berharap program serupa dapat dilanjutkan untuk terus mendukung kesehatan pekerja migran.
Program ini menjadi contoh Pengabdian Masyarakat berbasis teknologi yang tidak hanya berdampak pada kesehatan komunitas pekerja migran, tetapi juga memperkuat posisi UMY sebagai institusi yang berkontribusi dalam Kesehatan Global. (naf)
Editor : Bahana.