JOGJA - Pemprov DIJ masih menunggu keputusan dan aturan resmi dari pemerintah pusat terkait wacana libur sekolah selama satu bulan penuh selama bulan puasa. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) telah berkoordinasi dengan wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat berkunjung ke Jogja.
"Beliau menyampaikan bahwa daerah diminta untuk menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat," ujar Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIJ Suhirman saat dikonfirmasi kemarin (17/1).
Sebelumnya, di Provinsi DIJ menerapkan libur siswa hanya beberapa hari sebelum Lebaran. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Beberapa sekolah hanya melakukan penyesuaian terkait jam belajar.
"Jika biasanya satu jam pelajaran 45-60 menit, maka selama bulan puasa dikurangi menjadi 30-35 menit, agar siswa tidak terlalu lelah saat pulang," tuturnya.
Ia juga menyatakan siap melaksanakan kebijakan yang akan ditetapkan oleh pemerintah pusat. Mengingat bulan puasa tinggal sekitar 42 hari, kebijakan libur atau tidak pihaknya akan mengikuti. "Terpenting kebijakan yang diambil harus sudah memiliki payung hukum jelas," bebernya.
Wacana libur satu bulan selama bulan puasa telah terinformasikan oleh sebagian masyarakat. Berbagai tanggapan pun muncul atas wacana ini.
Salah seorang wali siswa asal Sleman, Hesti mengatakan apabila kebijakan itu jadi diberlakukan, ia berharap sekolah mempunyai program atau penugasan yang cocok untuk siswa di rumah. Hal itu lantaran kebanyakan siswa akan banyak bermain apabila tidak di sekolah, terlebih satu bulan itu merupakan waktu yang relatif panjang. "Bisa dengan belajar secara daring, penugasan atau apalah yang penting siswa tetap aktif belajar," ujarnya.
Ibu satu anak itu menilai rencana kebijakan libur satu bulan ada positif dan negarifnya. Sisi positifnya, anak bisa lebih banyak mengikuti kegiatan keagamaan yang sering diselenggarakan di masjid sekitar rumah mereka masing-masing.
Namun negatifnya, apabila orang tua sibuk, anak cenderung kurang terarah kegiatannya. "Kan banyak yang orangtuanya kerja, otomatis para orang tua harus mampu mengatur waktu agar bisa mendampingi anaknya," jelasnya.
Selain itu, siswa yang tidak terpantau oleh orang tuanya cenderung lupa pada materi yang telah diajarkan di sekolah. Terlebih saat nanti masuk hari pertama. Orang tua harus aktif memperhatikan sejauh mana sekolah memberikan materi kepada siswanya. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo