JOGJA - Penerapan sistem digital dalam kegiatan belajar mengajar, sudah dan akan terus diimplementasikan di SMPN 10 Jogja. Kepala Sekolah SMPN 10 Jogja Edy Thomas Suharta mengatakan, kendati proses pembelajaran sudah dilakukan sepenuhnya secara offline, penerapan e-learning atau sistem digital tetap dilakukan di sekolahnya.
Ia menerangkan, dalam praktiknya para guru membuat laporan harian dalam sistem e-learning. Laporan itu berisi kegiatan atau materi apa saja yang disampaikan para guru kepada siswa."Guru report perkembangan, perilaku siswa, dan hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Itu dilakukan setiap hari," katanya, Kamis (16/1).
Secara garis besar, adanya database digital soal progres siswa, hingga kegiatan para guru sangat membantu dalam berbagai hal. Termasuk menentukan skema pembelajaran yang ideal di sekolah, hingga memberi tahu kepada orang tua masing-masing siswa."Orang tua perlu tahu perkembangan dan keseharian anak-anaknya di sekolah. Per siswa ada datanya masing-masing," lontarnya.
Menurutnya, sistem pelaporan yang sudah terintegrasi secara digital itu sangat efisien bila dibanding metode konvensional yang masih ditulis tangan. "Sulit kalau manual. Ini mudah dan tidak perlu menulis. Ada fitur voice to text juga sangat memudahkan," urainya.
Dalam konteks lain, laporan harian itu juga membantu para guru melakukan asesmen dini kepada para siswa yang terindikasi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Thomas menyebut, seluruh guru di SMPN 10 sudah dibekali dengan kompetensi untuk mendeteksi dini siswa-siswi yang mungkin memiliki tendensi sebagai ABK. "Guru kami dapat pelatihan dari prodi pendidikan luar biasa (PLB) dan unit layanan disabilitas (ULD)," bebernya.
Jumlah keseluruhan siswa di SMPN 10 Jogja saat ini ada 680, terbagi dalam 21 rombel kelas. Dari jumlah itu, 31 di antaranya ABK. "Sebanyak 31 sudah diasesmen dan terbukti ABK. Tapi kami terus pantau harian dari sistem digital itu," tuturnya. (iza/laz)
Editor : Din Miftahudin