JOGJA - Berbagai penemuan berbasis teknologi digital secara garis besar berpengaruh pada banyak aspek, termasuk banyak pekerjaan manusia yang akhirnya tergantikan perannya oleh robot dan mesin.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan, Prof. Muhammad Faris Al-Fadhat menyadari betul, bahwa hal tersebut juga menjadi perhatian perguruan tinggi.
Disebutkan, tantangan dan perubahan yang terjadi perlu disikapi secara bijak, termasuk oleh universitas dan para mahasiswa.
Kata Faris, tujuan besar ini juga perlu dikemas dan dibentuk secara bertahap. Nilai tersebut menjadi penting untuk diketahui, sebab tujuan ini yang akan menentukan kesuksesan seseorang.
Lebih lanjut, Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Politik Internasional ini juga menegaskan, salah satu visi UMY, yakni memberi kebermanfaatan bagi sesama dan umat.
"Saya meyakini bahwa hidup seseorang bukan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain," ungkapnya.
"Ketika seseorang punya goals dan memberi manfaat untuk sesama, maka kesuksesan yang lebih besar juga akan menghampiri," imbuhnya.
Sementara itu, tantangan pekerjaan yang mungkin tergantikan oleh mesin dan robot tersebut juga disadari oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono.
Setyabudi berujar, dalam salah satu laporan survei yang dirilis World Economic Forum pada tahun 2020, disebutkan bahwa akan ada 85 juta jenis pekerjaan yang hilang pada tahun 2025.
Hal ini jelas menjadi tantangan bagi dunia pendidikan tinggi, yang bisa memunculkan fenomena ketidakpastian dan kecemasan karir pada para lulusannya.
"Riset ini juga menyatakan banyak lulusan dari perguruan tinggi yang mengalami berbagai macam tantangan pascalulus sebagai fresh graduate," bebernya.
"Antara lain adalah ketidakpastian dan kecemasan dalam karir yang akan ditempuhnya," jelas Setyabudi.
Namun, permasalahan tersebut, kata Setyabudi dapat diminimalisasi, jika para lulusannya dapat menyusun strategi dan tujuan yang jelas untuk mencapai tujuannya.
"Salah satu bekal yang harus dimiliki tentu saja etika dan integritas," pesannya.
Setyabudi percaya, salah satu indikator yang menentukan kesuksesan seseorang adalah soal etika dan integritas yang dimilikinya. Tingkat penerimaan publik terhadap diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh kompetensi, tetapi juga dengan etika dan integritas yang dimiliki.
"Sehebat apapun seseorang mengerjakan pekerjaan, jika tidak memiliki etika dan integritas yang baik maka hal tersebut akan menjadi persoalan," tandasnya (iza).
Editor : Heru Pratomo