JOGJA - Sebanyak 34 siswa-siswi tingkat SMA dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah antusias mengikuti rangkaian acara yang dilangsungkan di Yogyakarta.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KesbangPol) Drs Bambang S.Soerojo, M Si menerangkan, 34 duta kebangsaan tersebut adalah para putra-putri Morowali yang berprestasi sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra).
Baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional.
"Ini sebagai bentuk apresiasi dari Pemda Morowali, karena mereka sudah berprestasi, kemarin kegiatan 17 Agustus sebagai pengibar bendera dan sukses," katanya pada Radar Jogja, Rabu (16/10).
Bambang merinci, apresiasi dari pemerintah daerah tersebut secara rutin dilakukan setiap tahun.
Di mana, mereka mengajak anak-anak paskibra tersebut untuk belajar sekaligus berwisata di kota-kota yang ada di Indonesia.
"Ini program setiap tahun, agenda atau tujuannya tiap tahun berganti-ganti," ungkapnya.
Untuk 2024 ini, kota Jogja jadi salah satu jujukan. Sehari sebelumnya, rombongan dari Morowali tersebut terlebih dahulu mengekplorasi kawasan Magelang.
Yakni mengunjungi Candi Borobudur dan Akademi Militer (Akmil) Magelang.
Lalu, beberapa titik di Jogja yang dikunjungi meliputi, Museum Batik Jogjakarta, Kawasan Gunung Merapi, lalu lanjut ke Malioboro, hingga mengunjungi area Keraton Jogjakarta.
"Setelah dari Jogja, kami akan bergeser dengan kereta ke Surabaya. Dari Surabaya ke Kendari, lalu pulang ke Morowali," urainya.
Bambang menekankan, rangakaian acara yang dilakukan tidak saja berfokus dari segi wisata semata.
Namun juga ada penekanan edukasi bagi anak-anak tersebut.
Termasuk pengenalan pada beberapa sekolah kedinasan, harapannya agar anak-anak tersebut bisa punya gambaran nanti setelah lulus SMA mereka mau melanjutkan ke mana.
"Saya punya keinginan mereka bisa berdampak besar sebagai pemimpin masa depan," harapnya.
"Seperti kunjungan di Akmil, IPDN, dan beberapa kampus kan juga banyak di Jogja seperti halnya UGM. Itu penting untuk mengenalkan mereka," ujarnya.
Contoh lain, pembelajaran dari segi moral hingga soft skill juga jadi hal yang ditekankan.
Ia mencontohkan, seperti pembelajaran membatik tulis yang diikuti para siswa di Museum Batik Yogyakarta.
"Seperti membatik hari ini, melatih ketelitian dan kesabaran mereka, ini jadi bentuk pembelajaran yang penting bagi mereka," terangnya.
"Mereka ini calon pemimpin, kaderisasi dan pengenalan harus dilakukan sedini mungkin. Rata-rata mereka masih kelas 1 dan 2 SMA, masih sangat muda dan panjang perjalanannya," paparnya.
Sementara itu, salah seorang siswa Zahra Aisyah Aplizya mengungkapkan, lawatannya bersama rombongan paskibra ke Jogja ini cukup spesial.
Sebab, banyak hal-hal baru yang didapatinya, hal tersebut secara garis besar juga memberinya banyak pembelajaran dan pengalaman.
"Saya baru pertama kali ke Jogja, menyenangkan dan seru sekali, apalagi ramai sama temen-temen. Saya jadi belajar banyak soal budaya," tutur perempuan yang berhasil lolos paskibra nasional tersebut.
Secara pribadi, ia juga mengakui bahwa kunjungannya ke Jogja dan beberapa kota lain seperti Magelang, dan Surabaya juga akan dimanfaatkan secara optimal.
Salah satunya adalah, kunjungan tersebut dimanfaatkan nya untuk melakukan pemetaan dan menimbang, soal prospek kuliahnya yang akan diambil ke depannya.
"Aku pengennya jadi dokter militer dan mau coba daftar di universitas pertahanan," paparnya.
"Selain itu, plan lainnya juga pengen masuk ke UGM. Jurusannya mungkin di kedokteran," tandasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva