YOGYAKARTA – Meski dikenal sebagai satu-satunya politeknik industri kulit di Asia Tenggara dengan jaminan serapan kerja tinggi, Politeknik ATK Yogyakarta menghadapi tantangan besar dalam menarik minat mahasiswa lokal.
Direktur Politeknik ATK Sony Taufan mengungkapkan bahwa animo mahasiswa lokal, khususnya dari Yogyakarta, masih rendah. Patutut diduga salah satu kendalanya adalah biaya kuliah.
"Kita pengennya (mahasiwa) dari lokal Jogja, dalam arti kita pengennya mayoritas dari lokal," kata Sony Taufan usai acara sidang senat dan PKKMB ATK 2024 pada Selasa (1/10/2024).
Tapi karena mahasiswa lokal animonya kurang, pihaknya akan melakukan monitoring evolusi, untuk mengetahui secara pasti akar masalah.
"Khawatirnya karena biaya, makanya kita mau kerjasama dengan instansi terkait," ujarnya.
Pihak Politeknik ATK berencana menggandeng Pemda DIY agar subsidi bisa diperluas menggunakan dana keistimewaan (danais).
"Dengan behitu, lebih banyak mahasiswa lokal bisa mengakses pendidikan di Politeknik ATK tanpa terbebani biaya," ucapnya.
Diakui meski 75 persen biaya sudah disubsidi Kementerian Perindustrian, ternyata Rp 2,5 juta per semester mungkin masih dianggap mahal oleh sebagian calon mahasiswa.
Baca Juga: Tragis! Begini Kronologi Siswa SMP di Deli Serdang Tewas Usai Dihukum Squat Jump 100 Kali Karena Ini
"Makanya kita ingin mencoba mendekat supaya lebih baik lagi ke depan," jelasnya.
Sementara itu Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Masrokhan menyebut animo pendaftaran ke Politeknik ATK tahun ini meningkat tajam.
"Dari 2.230 pendaftar hanya 149 yang diterima, menciptakan rasio persaingan 1:11," kata Masrokhan.
Angka tersebut melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 1:10. Selain satu-satunya politeknik industri kulit di Asia Tenggara, turut menjadi faktor utama daya tarik calon mahasiswa.
"Lulusan politeknik juga mendapatkan jaminan serapan kerja yang tinggi di berbagai industri," ungkapnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin