JOGJA - Industri pangan fungsional punya peluang besar untuk ikut bersaing di pasar global. Tidak hanya berguna bagi kesehatan, pangan fungsional juga membawa peluang pertumbuhan ekonomi.
Hal tersebut menjadi isu hangat para peneliti dan praktisi industri dalam acara 2nd International Seminar on Functional Food and Nutraceutical. Mengusung tema 'Cultural Heritage and Health Sustainability: The Role of Traditional and Functional Food', digagas oleh Universitas Widya Mataram (UWM) Jogja pada Sabtu (28/9/2024).
Rektor UWM Prof. Edy Suandi Hamid menegaskan bahwa peluang ekonomi dari pangan fungsional luar biasa besar.
"Indonesia punya peluang besar untuk ikut terjun,” kata Prof. Edy.
Pasar global nutrasetikal sudah mencapai 326,56 miliar USD tahun lalu, dan bisa tumbuh dua kali lipat hingga 671,99 miliar USD pada 2034. Perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama di Asia-Pasifik, juga menjadi pendorong utama.
“Lebih dari separuh konsumen di kawasan ini sekarang peduli betul soal kesehatan dan kebugaran" ucapnya.
Menurut dia itu menjadi kesempatan besar bagi para pelaku industri pangan. Di Indonesia, sekitar 55 persen milenial sudah akrab dengan produk pangan fungsional, apalagi yang berbasis bahan alami seperti jamu.
"Namun, ada tantangan besar, terutama dari sisi regulasi," ungkapnya.
Agar bisa bersaing di pasar global, produk lokal harus memenuhi standar internasional seperti BPOM di Indonesia, EFSA di Eropa, dan FDA di Amerika Serikat.
"Maka kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri sangat diperlukan," bebernya.
UWM dan P3FNI berharap acara seminar mampu menjadi titik tolak bagi kemajuan industri pangan fungsional di Indonesia, dengan memanfaatkan kekayaan alam lokal dan inovasi ilmiah.
Sementara itu salah satu pembicara internasional dari Amerika Serikat Prof. Robert Brinkmann menjelaskan perkembangan pasar pangan fungsional di Negeri Paman Sam.
"Kolaborasi antara ilmuwan dan praktisi kunci dalam memajukan pangan fungsional yang berkelanjutan sangat diperlukan," kata Robert Brinkmann. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin