Memecahkan masalah limbah dari industri pengolahan sampah dengan berbagai program dan hibah alat.
Ketua Tim PPM AKPRIND Dewi Wahyuningtyas mengatakan, proses pengolahan limbah dipastikan menghasilkan limbah baru.
Pengolahan di DR Plastik juga menghasilkan limbah cair berupa air buangan dari pencucian plastik serta limbah padat berupa lumpur atau endapan yang berasal dari kotoran-kotoran sampah plastik.
"Limbah air buangan yang dihasilkan dari proses daur ulang plastik mencapai ± 4.000 liter/hari sedangkan untuk limbah padat mencapai ± 150 kg/hari," tuturnya.
Selama ini limbah air industri sampah hanya diolah secara fisik berupa penampungan ke dalam bak-bak dengan memanfaatkan gaya gravitasi untuk proses pengendapan kotoran dari air sisa proses.
Setelah kotoran dari sisa proses terendapkan, air langsung dibuang ke lingkungan.
Sedangkan untuk limbah padatnya hanya ditumpuk di sekitar lokasi produksi.
"Limbah padat terkadang dijual dengan harga murah yaitu Rp. 80.000 per m3 untuk bahan urukan," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (23/9/2024).
Proses pengolahan limbah tersebut dirasa tidak maskimal.
Selain itu, adanya pemborosan penggunaan air karena limbah cair tersebut tidak bisa digunakan kembali untuk air proses pencucian.
Sedangkan tumpukan limbah padat di sekitar lokasi membuat lokasi terlihat kotor,
"Kami berikan solusi dengan pengolahan limbah cair dengan sistem fitoremidiasi, Penerapan eco-eficiency penggunaan kembali air buangan proses daur ulang plastik," jelasnya.
Selanjutnya, proses pengeringan cacahan plastik saat ini dinilai terlalu lama.
Terlebih jika musim hujan yaitu bisa 2-3 hari pengeringannya. Tim PPM Akprind lalu merancang teknologi tepat guna mengatasi hal itu.
"Conventional drying with green house effect lebih efektif untuk pengeringan," ujarnya.
Penerapan teknologi tepat guna lainnya yakni merancang mesin pengepres untuk mengolah limbah padat menjadi paving blok.
Paving blok tersebut nantinya akan dijual agar menjadi barang yang mempunyai bilai ekonomi yang tinggi.
"Kami buatkan marketplace untuk pemasaran secara online melalui website," tuturnya.
Tim Hibah PKM AKPRIND Indonesia Dewi Wahyuningtyas, S.T., M.Eng (ketua), Paramita Dwi Sukmawati, S.T., M.Eng (anggota) dan Yuli Purwanto, S.T., M.Eng (anggota).
Pemilik UKM DR Plastik Sudaryanto mengatakan industri miliknya telah berdiri sejak tahun 2018. Industri tersebut melakukan proses daur ulang plastik mulai dari pengumpulan himgga pencacahan.
mengatakan industri tersebut menerima sampah dari pengepul maupun pemulung.
Sampah tersebut kemudian dilakukan pemisahan menurut jenis bahannya.
Proses terakhir yakni dilakukan pencucian sekaligus pencacahan agar menjadi kepingan plastik kecil.
"Selain sebagai industri, kami turut membantu mengurangi jumlah timbunan sampah," ujarnya.
Adanya program tersebut ia menilai sangat bermanfaat. Permasalahan terkait limbah menjadi mulai terurai. Selain itu, produktivitas industri juga semakin tinggi. (oso)
Editor : Bahana.