Fokus program tersebut adalah mengoptimalkan produktivitas Bank Sampah dengan pengadaan mesin-mesin hingga fasilitas keselamatan kerja.
Program tersebut didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kemdikbudristek melalui skema Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM).
Tim program beranggotakan dosen dan mahasiswa dari prodi Teknik Lingkungan, Teknik Mesin, dan Teknik Industri.
Tim tersebut diketuai oleh Eka Sulistyaningsih, S.Si., M.Sc. beranggotakan Satriawan Dini Hariyanto, S.T., M.Eng. dan Andrean Emaputra, S.T., M.Sc.
Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut berjumlah 9 orang yang direkognisi dalam program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka).
Konversi kegiatan mahasiswa ke mata kuliah dari kegiatan ini meliputi Capstone Design, KKN, KP, Teknik Lingkungan, Kewirausahaan dengan jumlah rekognisi hingga 8 SKS.
Ketua Tim Eka Sulistyaningsih, S.Si., M.Sc mengatakan program dimulai dengan perbaikan fasilitas keselamatan kerja seperti alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan lainnya.
Selain itu, kuga dilakukan pemasangan APAR, rambu hingga poster K3 dan 5R.
"Program peningkatan aspek manajemen K3 ini mampu menaikkan pemahaman penerapan K3 di lokasi mitra hingga 90%," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (23/9/2034).
Selain itu, tim juga meberdayagunakan salah satu lahan kosong untuk mengakomodir penerapan mesin incinerator dan kompaktor sampah plastik yang akan dihibahkan.
Mereka juga menata lay out setiap divisi di bank sampah tersebut agar memudahkan pekerjaan pengurus.
"Adanya penutupan TPA Piyungan, kuota di bank sampah cepat penuh. Program ini mengatasi masalah itu," tuturnya.
Ia menilai Bank Sampah Becik Resik telah memounyai produk dari pengolahan sampah diantaranya berupa kerajinan tangan dan ecoenzim.
Melihat potensi itu, tim lalu melakukan kegiatan pelatihan pemasaran menggunakan e-commerce.
"Untuk menaikkan pendapatan kas bank sampah agar dapat menaikkan omzet dari pengelolaan limbah menjadi produk yang lebih bernilai jual," jelasnya.
Ketua Bank Sampah Becik Resik Sumbermulyo Mirna Dewi mengatakan bank sampah telah ada dan berjalan sejak tahun 2016.
Nasabah bank sampah tersebut sebanyak 85 nasabah. Bank sampah itu mengelola sampah organik dan anorganik.
"Adanya kegiatan ini meningkatkan produktivitas dan memudahkan pekerjaan para petugas," ujarnya.
Dalam operasional sehari-hari, para pengelola bank sampah seringkali dihadapkan pada berbagai risiko keselamatan kerja yang dapat membahayakan. Selain itu, pemasaran produk turunan dari pengelolaan sampah masih dinilai kurang.
"Adanya pelatihan pemasaran dan hibah perlengkapan keselamatan kerja juga sangat membantu," bebernya. (oso)
Editor : Bahana.