Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pendidikan Vokasi Terus Tumbuh, Dibuktikan dengan Jumlah Sekolah Vokasional Lebih Tinggi

Fahmi Fahriza • Selasa, 17 September 2024 | 15:00 WIB

 

INOVATIF: Beragam alat mitigasi bencana dihadirkan pada The Marketplace Inovasi dan Industrialisasi Peralatan Kebencanaan yang berlangsung di Sekolah Vokasi UGM (20/5).
INOVATIF: Beragam alat mitigasi bencana dihadirkan pada The Marketplace Inovasi dan Industrialisasi Peralatan Kebencanaan yang berlangsung di Sekolah Vokasi UGM (20/5).
 

JOGJA - Meski secara agregat pendidikan vokasi di Indonesia belum setinggi negara lain, namun secara signifikansi pendidikan vokasi terus tumbuh. Hal ini disadari dan dibenarkan oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) Wiryanta.

Salah satu indikatornya, kata Wiryanta, pendidikan vokasi di Indonesia sudah cukup setara dengan pendidikan sarjana. Ini tercermin dari jumlah sekolah yang ada. Hingga jabatan-jabatan fungsional yang tersedia di pendidikan vokasi.

"Dulu masih ada batasan, misalnya dari karier dosen. Dosen vokasi dulu tidak bisa mencapai guru besar, maksimal lektor kepala. Tapi sekarang sudah bisa jadi guru besar," bebernya Senin (16/9/2024).

 

Wiryanta
Wiryanta

Selain itu, indikator lainnya adalah jumlah sekolah vokasional. Baik di tingkat perguruan tinggi maupun kejuruan atau SMK. Disebutkan, dulu ada jarak yang cukup kentara, yakni 1:3. Jumlah SMK lebih sedikit dibanding SMA. "Namun sekarang sudah bergeser, SMK maupun sekolah vokasi di perguruan tinggi sudah banyak," tuturnya.

Menurutnya, pertumbuhan yang terjadi tidak lepas dari kesadaran dan regulasi pemerintah. Terkait pembangunan SDM, terutama di sektor pendidikan vokasi.

"Ada aturan presiden soal revitalisasi pendidikan vokasi, termasuk mengkonversi pendidikan vokasi, yakni agar SMK sama banyaknya dengan jumlah SMA," paparnya.

 

JUMLAH SMK DI DIY 

Kabupaten/Kota

Negeri

Swasta

Bantul

13

33

Sleman

8

50

Gunungkidul

13

32

Kulon Progo

8

22

Jogja

8

20

Jumlah

50

157

*) Sumber Dapo.Kemendikbud

 

Secara pribadi, Wiryanta menilai hal tersebut sangat positif. Sebab dia menyadari, pendidikan vokasi dan sarjana memang harus bisa berjalan beriringan. "Secara kesetaraan sudah baik, program sarjana dan vokasi itu harusnya beriringan seperti rel kereta api. Punya rel di sisi kanan dan kiri, itu yang menyangga pendidikan Indonesia," ungkapnya.

 Baca Juga: Bantul Hanya Miliki Tiga Madrasah Ibtidaiyah Negeri, Disebut Sudah Cukup

Selain itu, dengan masifnya pendidikan vokasi yang ada di Indonesia, itu juga akan berimplikasi positif pada persaingan SDM dalam lingkup global. Sebab, kebutuhan industri saat ini kian dinamis. Selain soft skill, hard skill berupa praktik juga sangat penting. Sementara, praktik tersebut banyak didapatkan pada program-program vokasional. "Itu tercermin salah satunya dari magang industri, mahasiwa berkesempatan praktik langsung dan meningkatkan soft skill sekaligus hard skill-nya," bebernya.

Sementara itu, mahasiswa vokasi UGM Nugroho Mukti menyampaikan, keinginannya masuk ke vokasi bukan tanpa sebab. Dia menyadari penting bagi seseorang untuk memiliki keahlian khusus. "Karena kan ekosistem vokasi itu teori berbasis praktik. Jadi akan terbiasa nanti dengan praktik," ungkapnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Wiryanta #Sekolah Menengah Kejuruan #sekolah vokasi #Pendidikan vokasi