RADAR JOGJA - Bongkar pasang kurikulum menjadikan sebagian orang tua kebingungan. Terutama Kurikulum Merdeka yang digadang-gadang memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran (mapel), justru sama dinilai saja dengan kurikulum sebelumnya. Siswa tidak mempunyai ruang untuk memilih mapel yang diinginkan.
Hal ini diutarakan Eko Budi Priyanto yang menyekolahkan anaknya di SMAN 2 Wates. Menurutnya, perubahan iklim sama sekali tidak memberikan dampak positif bagi pembelajaran anaknya. Justru perubahan yang membingungkan orang tua seperti dirinya.
"Ganti-ganti malah jadi bingung. Orang tua juga perlu menyesuaikan agar bisa memberikan dukungan ," ucap Eko saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (6/9/2024).
Baca Juga: Batal Main di Liga 1, Bekas Top Skorer PSIM Jogja Musim Lalu Dipinjamkan ke FC Kota Bekasi di Liga 2
Ia menjelaskan, setiap berubahnya menteri, iklim juga ikut berubah. Padahal perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada peserta didik saja. Namun wali murid sepertinya juga terdampak. Lantaran untuk mendukung anak belajar orang tua juga perlu mempelajari kurikulum baru. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan anak, baik buku tambahan maupun mendorong mental untuk belajar.
Sebelum Kurikulum Merdeka, Eko telah mempelajarinya. Bahkan merasa cocok dengan kurikulum K-13. Lantaran kurikulum ini dinilai lebih mengarah pada pengasahan kemampuan peserta didik. Sehingga ketika akan melanjutkan pendidikan ke PTN, kemampuan peserta didik sudah terasah.
Sedangkan Kurikulum Merdeka mengarahkan pendidikan pada moral siswa. Yang mana dalam penilaian bersifat subyektif, berbeda dengan K-13 yang berorientasi pada kompetensi dengan tujuan evaluasi. “Anak saya sebenarnya minatnya di IPA, tapi karena hasil tes psikologi dan minat malah mengarah ke IPS,” ujarnya.
Baca Juga: Pasokan Berkurang, Beras Jadi Komoditas Utama Penyumbang Inflasi di DIY pada Agustus 2024
Kurikulum Merdeka yang memberikan keleluasaan pada peserta didik, sejatinya justru sama saja dengan kurikulum lain. Eko menjelaskan, justru tak dapat memilih mapel yang sesuai keinginan. Lantaran dari sekolah menyajikan pilihan kelompok mapel, dan saat dilakukan peminatan putranya justru menerima kelompok mapel yang tidak diinginkan.
Mapel yang didapat saat SMA dinilai sangat berpengaruh untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Jika anaknya bisa mengikuti kelompok mapel IPA, memungkinkan saat ujian masuk PTN anaknya dapat menambah peluang jurusan lain. Lantaran untuk masuk di PTN dengan jurusan tertentu memerlukan kelulusan nilai tinggi, yang selama ini kebanyakan berada di kelompok mapel IPA. “Harapannya kurikulum tidak berganti-ganti lagi,” tegasnya.
Baca Juga: Mengenal Karen Ainun Jayatri, Juara 1 Duta Kampus Amikom yang Pernah Bercita-cita Jadi Pembalap
Kendati mengeluhkan perihal Kurikulum Merdeka, Eko sama sekali tak menolak kebijakan pendidikan. Namun dirinya berharap agar kurikulum tak berubah kembali. Terutama menjelang pergantian kabinet yang berpotensi mengubah menteri dan kurikulum di masa depan. (gas/malas)
Editor : Sevtia Eka Novarita