Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kurikulum Merdeka Fokus Pembelajaran Diferensiasi, P5 Tekankan Pendidikan Karakter Peserta Didik

Naila Nihayah • Senin, 9 September 2024 | 14:05 WIB

 

Siswa-siswi kelas 1-3 bersama-sama menghias pot tanaman dari gerabah di sekolah SDN Ngupasan, Jogja, Jumat (23/8).
Siswa-siswi kelas 1-3 bersama-sama menghias pot tanaman dari gerabah di sekolah SDN Ngupasan, Jogja, Jumat (23/8).

RADAR JOGJA - Kurikulum Merdeka secara garis besar sudah diimplementasikan di semua sekolah jenjang SMA di Indonesia, termasuk SMAN 6 Jogja. Bahkan SMA ini sudah menjalankan Kurikulum Merdeka selama tiga tahun.

"Kami sudah jalankan Kurikulum Merdeka selama tiga tahun, dengan dua bulan awal sebagai simulasi," kata guru bahasa Indonesia yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 6 Eko Sunaryo Minggu (8/9/2024).

Ia menerangkan, dalam Kurikulum Merdeka para siswa memiliki kebebasan lebih untuk mengembangkan potensi, serta minat dan bakat sesuai kemampuan yang dimiliki. Serta dalam kurikulum ini sudah dihapuskannya jurusan semacam IPA, IPS, atau Bahasa.

"Di kurikulum sebelumnya, siswa dipisah berdasar peminatan. Namun di Kurikulum Merdeka ini, sudah tidak ada peminatan. Siswa kelas 10 wajib ikut semua mata pelajaran di sekolah. Lalu, siswa akan memilih mata pelajaran pilihan di kelas 11 dan 12 sesuai minat dan bakatnya," lanjutnya.

Disebutkan, proses pemilihan yang dilakukan siswa juga tidak sembarangan dan tidak asal diterima oleh sekolah. Ada proses asesmen berupa tes psikologi yang dilakukan oleh sekolah bagi para siswa.

Guru SMAN 6 Jogja Eko Sunaryo
Guru SMAN 6 Jogja Eko Sunaryo

"Pemilihannya dibantu guru BK saat siswa kelas 10. Jadi siswa sudah diarahkan untuk memilih sesuai minat dan bakatnya. Tujuan kurikulum ini untuk mengembangkan potensi siswa berdasar minat dan bakat masing-masing atau pembelajaran berdiferensiasi," tambahnya.

Eko memaparkan, dengan tidak adanya penjurusan atau peminatan, hal itu dirasa lebih ideal bagi siswa, karena mereka benar-benar bisa belajar sesuai minat dan bakat masing-masing. Beberapa minat dan bakat yang difasilitasi sekolah sendiri, antara lain, meliputi peminatan pada bidang pekerjaan atau studi lanjut ke teknik, bisnis, industri, hingga kesehatan.

"Guru harus menguasai diri sebagai pemimpin pembelajaran, memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan potensi diri. Siswa harus diarahkan sesuai kebutuhan zaman, dan disesuaikan juga dengan bakat alam yang dimiliki siswa,"  terangnya.

Lebih lanjut Eko mengungkapkan, salah satu yang menjadi karakteristik dari Kurikulum Merdeka adalah besarnya keterlibatan siswa untuk menjadi partisipan aktif dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Siswa diminta membuat project atau luaran dari setiap mata pelajaran yang diikuti. Hal ini salah satunya terangkum dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

"Kurikulum Merdeka membuat siswa harus lebih aktif, harus menghasilkan project seperti P5. Demikian juga terjadi pada guru. Guru harus makin inovatif mencari ide dan menciptakan metode atau media bantu pembelajaran," lontarnya.

Sementara itu, sejumlah satuan pendidikan di Kota Magelang juga telah menerapkan Kurikulum Merdeka, satu di antaranya SMAN 5 Magelang. Sekolah ini sudah mengimplementasikan sejak tiga tahun lalu. "Seluruh rombongan belajar (rombel) yang berjumlah 29 sudah menerapkan Kurikulum Merdeka," ujar Kepala SMAN 5 Magelang Sucahyo Wibowo Minggu (8/9/2024).

Kepala SMA N 5 Magelang Sucahyo Wibowo
Kepala SMA N 5 Magelang Sucahyo Wibowo

Namun di sisi lain, dia menyadari setiap kurikulum kerap menimbulkan kebingungan bagi para guru dan peserta didik. Pemahaman kurikulum baru tentu membutuhkan waktu yang tidak instan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi ditambah dengan sistem pembelajaran saat ini yang lebih memanfaatkan teknologi informasi.

Sekolah yang notabene berada di pelosok desa, kebanyakan terkendala infrastruktur untuk menunjang pembelajaran itu. Sehingga tidak semua guru familiar terhadap teknologi informasi. Hal itu praktis menjadi tantangan tersendiri bagi guru karena mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, Kurikulum Merdeka dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk mendesain proses pembelajarannya sesuai dengan kompetensi dan karakteristik peserta didik. Guru didorong untuk lebih berinovasi dan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan menarik agar peserta didik dapat belajar dengan lebih efektif.

Sebab kurikulum itu, kata dia, berfokus pada peningkatan kemampuan dan karakteristik peserta didik. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang mengedepankan one way traffic communication. "Sekarang guru harus mengidentifikasi karakteristik setiap peserta didik. Sehingga pembelajarannya harus berfokus pada diferensiasi," paparnya.

Itu berarti, guru akan memberikan perlakuan berbeda kepada peserta didik sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Menurutnya, dengan implementasi itu, konsep naik atau tidaknya peserta didik ke tingkat selanjutnya menjadi sedikit kabur. Sehingga SMAN 5 Magelang menerapkan tiga instrumen atau asesmen untuk melihat karakteristik peserta didik.

Tiga asesmen itu berupa diagnostik, formatif, dan sumatif. Untuk diagnostik biasanya diberikan ketika peserta didik hendak masuk SMA. Sementara asesmen formatif dilakukan untuk mengukur capaian setiap kompetensi dasar.

Sedangkan asesmen sumatif dilakukan di akhir jenjang. "Tapi tidak menentukan kelulusan. Sekolah diberi keleluasaan untuk menentukan apakah perlu (sumatif) atau tidak," sebutnya.

Selain itu, implementasi Kurikulum Merdeka dapat meningkatkan literasi dan numerasi peserta didik. Sehingga pada kurikulum itu tidak berlaku penjurusan IPA, IPS, maupun bahasa. Penghapusan jurusan itu telah dilakukan sejak 2023. Hal itu selaras dengan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

Dengan begitu, peserta didik dibebaskan memilih minat pembelajarannya, sehingga bisa lebih fokus dan mendalami pelajaran tertentu.

"Begitu anak kelas 10 naik ke kelas 11, nanti anak lebih fokus memilih paket atau kelompok tertentu. Paket 1, misalnya lebih berorientasi pada pembelajaran IPA. Paket 2, misalnya lebih fokus pada IT dan sosial," katanya.

Cahyo mengatakan, salah satu yang menonjol pada implementasi Kurikulum Merdeka adalah Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan ko-kurikuler tersebut menekankan pada pendidikan karakter peserta didik.

Seperti kerja sama, keberagaman, berkomunikasi, anti kekerasan, berpikir kritis, dan mandiri. "Tinggal nanti implementasinya dalam kehidupan sehari-hari seperti apa," tambahnya.

Dia berharap, proses pendampingan terhadap Kurikulum Merdeka harus terus dilakukan. Termasuk memberi pemahaman terhadap guru agar pembelajaran dapat berjalan dengan semestinya. (iza/aya/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#p5 kurikulum merdeka #kurikulum merdeka #SMAN 6 Jogja #SMAN 5 Magelang