RADAR JOGJA - Sisa makanan masih jadi kategori sampah yang tidak mudah diselesaikan. Volume sampah tersebut juga makin banyak, seiring jumlah penduduk yang juga meluber.
Merespons hal tersebut, dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Nasih Widya Yuwono mengembangkan inovasi pengolahan sampah sisa makanan lewat metode ember tumpuk.
Perlu diketahui, ember tumpuk sendiri merupakan alat pemrosesan pupuk yang dapat dilakukan untuk menanggulangi bau tak sedap dari sampah organik.
"Sisa sampah itu lalu dapat menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah," katanya Senin (2/9/2024).
Nasih menjelaskan, proses pembuatan metode tersebut dengan menyatukan dua ember yang disusun secara bertumpuk. Nantinya, ember yang berada di atas dipakai untuk menampung sampah organik. Dengan lubang saringan, akan meneruskan hasil cairan dari pembusukan (lindi) ke bawah dengan bantuan gravitasi.
Cara kerja ember tumpuk ini memanfaatkan gaya gravitasi. Hasil pembusukan sisa makanan atau buah berupa cairan di ember atas akan turun ke ember di bawahnya.
Selain dipakai untuk mengelola sampah agar tidak berbau dan menghasilkan pupuk lindi, sisa sampah organik yang ada di ember atas bisa dimanfaatkan dengan adanya maggot.
Maggot ini berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang membantu pengomposan sampah lebih cepat. Serta dapat dimanfaatkan sebagai pakan dari ternak. "Dengan adanya maggot itu lebih cepat lagi prosesnya, karena maggot konsumsinya banyak," sebut Nasih.
Disebutkan, penelitian terkait ember tumpuk ini sudah dilakukan Nasih sejak 2000 silam. "Lalu pada 2018 lalu, untuk pertama kali inovasi ember tumpuk ini pertama muncul di siaran TV," tuturnya.
Meskipun sudah diteliti sejak lama, kata Nasih, namun di tengah pengembangannya, dia sempat mengalami beberapa kendala. Salah satu yang paling krusial adalah bau yang tidak sedap.
Akhirnya, Nasih dan timnya berpikir keras soal cara mengurangi bau tak sedap pada hasil lindi. Ide ini muncul pada 2016 saat mahasiswanya meneliti pengelolaan limbah ikan.
"Saat itu, hasil penelitian tersebut menimbulkan bau amis yang kuat hingga diprotes banyak orang," kenangnya.
"Lalu akhirnya ada penemuan menarik. Ada sampel yang tidak bau menyengat, karena lindi tersebut hasil penjemuran," sambungnya.
Dalam prosesnya, sebelum menggunakan ember tumpuk, Nasih dan tim peneliti sempat menggunakan tong yang berukuran besar. Hanya saja dikarenakan harganya yang mahal dan ukurannya besar, metodenya ditinggalkan.
"Kita akhirnya beralih pakai ember yang lebih murah, mudah dicari, dan dan praktis untuk dibawa pergi," lontarnya.
Nasih berharap, ide ember tumpuk ini bisa dikembangkan di skala yang lebih besar. Seperti menggunakan reaktor besar atau bak.
"Kami di Fakultas Pertanian juga membuka besar kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak," ajaknya. (iza/eno)