RADAR JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) mewisuda 1.797 mahasiswa lulusan program sarjana periode IV Rabu (28/8). Seluruh mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Psikologi, Peternakan, Teknik, Farmasi, Pertanian, Teknologi Pertanian, Biologi, Kedokteran Gigi, dan Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK).
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan UGM Supriyadi selaku pemimpin upacara wisuda merinci, jumlah wisudawan didominasi oleh para mahasiswi. "Wisudawan perempuan mendominasi dengan persentase lebih dari 60 persen," katanya di Grha Sabha Pramana (GSP).
Sementara untuk rata-rata masa studi, adalah empat tahun satu bulan. Waktu studi tercepat diraih oleh Finessa Meutia Kamila dan Nafisah Diva Arrosyid dari Fakultas Teknologi Pertanian, serta Fadhilah Fikriyanti Putri dari Fakultas Biologi. "Ketiganya berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 4 bulan 5 hari," tuturnya.
Lalu, terkait indeks prestasi kumulatif (IPK), rata-rata lulusan kali ini di kisaran 3,60. Atau lebih dari 70 persen wisudawan berpredikat pujian. "Ada empat wisudawan yang meraih IPK tertinggi, yakni 3,97," ucapnya bangga.
Keempat wisudawan tersebut adalah Naura Hidayat dan Mutiara Destyana dari FK-KMK, Daniella Nadia Prijadi dari Fakultas Teknik, dan Finessa Meutia Kamila dari Fakultas Teknologi Pertanian.
Supriyadi berpesan, agar para wisudawan tetap punya komitmen pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Serta menjunjung tinggi nama baik almamater. "Dalam menjalankan tugas profesional, harus mendahulukan tanggung jawab pada kesejahteraan masyarakat Indonesia," pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Supriyadi juga menekankan beberapa hal yang saat ini menjadi perhatian utama bangsa. Yaitu penyambutan Ibu Kota Nusantara (IKN), estafet kepemimpinan nasional, serta semangat bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
"Tiga agenda besar itu memerlukan kontribusi kita semua untuk mengawal perwujudannya, apalagi di tengah tantangan ekosistem global," pintanya.
Di sisi lain, dia juga menyadari tantangan teknologi digital. Salah satu perubahan dari kehadiran modernisasi teknologi, adalah masifnya pengembangan kecerdasan buatan (AI). "Ini membuka peluang kerja baru, tapi juga membawa risiko pemangkasan tenaga kerja manusia di beberapa industri modern," katanya mengingatkan. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika