RADAR JOGJA - Kegiatan seni dan budaya memainkan peran penting dalam menghidupkan sebuah organisasi. Tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan antaranggota sekaligus melestarikan warisan nilai-nilai luhur.
Dosen Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Cokroaminoto (UCY) Intan Kusumawati sejak jadi mahasiswa aktif berorganisasi. "Waktu itu resimen mahasiswa (menwa). Sampai dengan saat ini masih menjadi pengurus ikatan alumni Menwa Mahakarta Jogja bagian litbang," kata Intan.
Selain itu dia juga menjadi pengurus sub bidang seni dan budaya wiramahakarta. Di situ secara rutin melakukan pertemuan untuk persiapan pentas.
"Salah satunya pentas pagelaran ketoprak, dan kami bagian tari," ujarnya.
Dosen PPKn ini melanjutkan, di organisasi IKA Mahakarta dan bagian dari anggota Wira Mahakarta juga ada tari wajib. "Namanya tari Wira Mahakarta mengenakan pakaian doreng, dengan identitas baret ungu," ucapnya.
Beranggotakan 40 orang, setiap sepekan sekali latihan di museum perjuangan. Selain itu dia juga belajar tari Wira Pertiwi, tari Nawung Sekar, Roro Ngigel, Tari Perang, juga Line Dance termasuk Line Jogja Istimewa. "Kemarin waktu HUT IKA Mahakarta kita tampil," jelasnya.
Meski tidak memiliki darah penari, namun jebolan S3
UNY Ilmu Pendidikan Konsentrasi PIPS itu mengaku suka menari. Sebab di bidang seni Wira Mahakarta, rata-rata anggotanya tidak memiliki latar belakang sebagai seorang penari. "Usia paling muda sekitar 40 tahun, dan paling tua bisa sampai 80 tahun," ucapnya.
Menurutnya, pameran karya seni lokal menjadi pusat perhatian. Memberi platform bagi seniman untuk menampilkan karya dan mendorong apresiasi terhadap seni lokal.
"Hobi di seni budaya tidak hanya bermanfaat secara pribadi tetapi juga memberikan dampak positif luas bagi komunitas," ucapnya. (gun/eno)
Editor : Satria Pradika