RADAR JOGJA – Lophochroa leadbeateri atau dikenal sebagai burung kakatua pink, salah satu spesies kakatua tercantik dari semua jenis kakatua di dunia. Dengan kombinasi warna bulu putih lembut dan merah muda salmon, kakatua ini tampak begitu mempesona.
Ditambah perpaduan warna jambul merah dengan kuning cerah, menjadikan spesies Lophochroa leadbeateri semakin elegan dan tentunya memikat hati bagi siapapun yang melihatnya.
Nama lain dari kakatua pink diantaranya, Pink Cockatoo, Leadbeater’s Cockatoo, Wee Juggler, Cocklerina, Major Mitchell’s Cockatoo, Chockalott hingga Desert Cockatoo.
Jenis kakatua jantan dan betina pada spesies ini terbilang hampir sama. Si jantan cenderung lebih besar.
Sedangkan kakatua betina di bagian jambulnya memiliki garis kuning lebih lebar dibanding kakatua jantan. Kemudian kakatua betina dapat mengembangkan mata merahnya saat dewasa.
Major Mitchell’s Cockatoo tergolong burung endemik yang berasal dari Australia dan hidup di pedalaman semi kering dan juga gersang.
Wilayah habitat meliputi bagian barat daya Queensland sampai barat laut wilayah Victoria. Sebagian besar berada di Australia Selatan, hingga bagian barat daya Northern Territory dan pantai barat dari Shark Bay.
Selain itu, Major Mitchell’s Cockatoo juga dapat ditemukan di wilayah New South Wales hingga bagian timur Bourke dan Griffith. Penemuan spesies dari persebaran spesies ternyata dilakukan secara sporadik atau penyebaran di suatu daerah yang kurang merata.
Kehidupan burung kakatua dapat bertahan di sabana, padang rumput berhutan hingga semak belukar.
Asal mula nama kakatua pink dengan julukan Major Mitchell’s Cockatoo adalah dulunya burung ini diberi nama oleh seorang penjelajah sekaligus surveyor Tenggara yang bernama Mayor Sir Thomas Micthell di tahun 1800-an.
Memiliki rentang kehidupan yang lama, burung kakatua pink dapat hidup hingga 80 tahun jika berada di penangkaran. Sedangkan di alam liar, mereka hidup 40 sampai 60 tahun.
Saat musim kawin tiba, banyak dari burung kakatua pink yang menghabiskan waktu berkelompok dan kawanannya dapat berjumlah 10-50 ekor.
Baca Juga: Larang Paskibraka Berjilbab, BPIP Langgar Nilai Pancasila dan HAM, Salah Satunya dari Yogyakarta
Kemudian selama musim kawin, pasangan yang melakukan perkawinan akan memiliki wilayah kekuasaan sendiri. Hal ini salah satu cara untuk mencegah pasangan lain berkembang biak di wilayahnya.
Major Mitchell’s Cockatoo bukanlah penerbang yang handal. Mereka memiliki karakteristik terbang yang lambat dan hanya mampu di ketinggian rendah.
Kemudian mereka juga kadang beristirahat untuk mengisi energi dan melanjutkan penerbangannya lagi. Mereka termasuk spesies yang tidak banyak gerak namun jika membutuhkan makanan, kakatua pink akan melakukan migrasi lokal.
Major Mitchell’s Cockatoo adalah spesies burung herbivora. Biasanya mereka memakan biji-bijian mulai dari melon, sereal, spesies pinus, larva serangga, spesies gulma hingga cabang-cabang pohon.
Spesies kakatua pink ternyata terancam mengalami kepunahan. Banyak sebagian habitat mereka yang berkurang karena dampak buruk dari aktivitas ilegal manusia. Seperti penebangan liar hingga penangkapan ilegal yang dilakukan terus-menerus.
Berbagai ancaman yang mereka hadapi telah memberikan informasi penting bagi kita untuk terus mendukung dan mengupayakan konservasi guna melindungi spesies dari berbagai kalangan.
Selain itu, spesies ini juga dapat bertahan hidup dengan baik dan terhindar dari aktivitas ilegal oknum-oknum jahat.
Penulis: Razmarita Dyasprinasti
(Berbagai Sumber)