Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketersediaan Lahan Kian Terbatas, Dosen Pertanian UMY Sarankan Metode Urban Farming untuk Masyarakat Perkotaan 

Fahmi Fahriza • Senin, 5 Agustus 2024 | 15:50 WIB

Dosen Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY Oki Wijaya.Dokumentasi pribadi 
Dosen Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY Oki Wijaya.Dokumentasi pribadi 
  


RADAR JOGJA - Alih fungsi lahan terus terjadi di banyak daerah, termasuk DIY. Merespons fenomena ini, Dosen Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY Oki Wijaya mengatakan, urban farming jadi salah satu metode yang bisa dipilih. Utamanya oleh masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan pertanian.

Oki merinci, urban farming memiliki beberapa metode yang cukup populer dan efektif. Mulai dari metode hidroponik, akuaponik, kebun atap, kebun vertikal, dan kebun komunitas.

"Lima metode itu cukup efektif berdasar efisiensi penggunaan ruang, produksi hasil yang tinggi, dan adaptabilitas pada lingkungan perkotaan," katanya pada Radar Jogja Minggu (4/8).

Dia menjelaskan, hidroponik jadi salah satu metode yang paling umum dipakai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Yakni menanam tanaman tanpa tanah dengan menggunakan larutan nutrisi. 

Dari segi efektivitas, hidroponik memungkinkan kontrol penuh atas nutrisi yang diterima tanaman. Menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil yang lebih tinggi.  "Sistem ini juga menghemat air hingga 90 persen dibanding dengan pertanian konvensional," bebernya.

Menurutnya, metode ini banyak dipakai di kota besar seperti New York dan Tokyo. “Untuk menanam sayuran daun seperti selada dan bayam," sambungnya.

Lebih lanjut, urban farming, kata Oki menjadi solusi inovatif dalam menyediakan pangan segar di tengah lingkungan perkotaan yang padat. Namun, relevansi dan efektivitas penerapannya bergantung pada berbagai faktor yang berbeda di setiap daerah. "Salah satu faktor utama adalah ketersediaan ruang," ucapnya.

Menurutnya, di kota-kota besar dengan ruang terbatas, metode seperti kebun vertikal, kebun atap, dan hidroponik sangat relevan karena efisien dalam penggunaan ruang yang minimal.

Selanjutnya, di daerah pinggiran kota yang memiliki lebih banyak ruang terbuka. Kebun komunitas atau kebun kontainer mungkin lebih cocok dan mudah diterapkan.

"Iklim dan lingkungan juga berperan penting dalam menentukan metode urban farming yang efektif," tuturnya.

Terpisah, salah satu orang yang kini sedang belajar urban farming adalah Destya Pritanti. Ketertarikannya mencoba urban farming berawal dari kebiasaan memelihara tanaman pot saat di rumah.

Baca Juga: Mahasiwa UMY Ciptakan Deteksi Dini Anemia Bumil dan Menyusui dengan Teknologi AI

"Di rumah punya banyak tanaman, sekarang ngekost mau coba rawat tanaman dan urban farming juga," bebernya.

"Kebetulan di kosan juga ada rooftop kecil-kecilan, baru coba sebulanan ini," ungkap perantau asal Sragen ini.

Saat dikonfirmasi, Destya mengaku bahwa ini kali pertamanya mencoba metode urban farming, dalam prosesnya dia banyak belajar dan mencari referensi dari sosial media. 

"Aku nonton di YouTube atau baca-baca soal cara-caranya, sampai tanaman apa yang efektif," paparnya.

"Tujuannya buat isi kegiatan di sela waktu kerja, hasil tanamannya nanti juga buat diri sendiri," sambungnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#Fakultas Pertanian #efisiensi #UMY