BANTUL - Mencegah pernikahan dini di sekolah inklusi memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak. Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Bantul menjadi pionir layanan bimbingan remaja usia sekolah (Labrus) di sekolah inklusi.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bantul Ahmad Shidqi mengatakan kegiatan ini, merupakan inovasi dari Kankemanag Bantul. Baru pertama kali di Provinsi DI. Jogjakarta terselenggara layanan labrus di sekolah inklusi.
"Tujuan kegiatan ini untuk membekali para remaja usia sekolah, terutama siswa sekolah inklusi dalam menghadapi kehidupan yang semakin komplek," kata Ahmad Shidqi pada Minggu (4/8/2024).
Kankemenag Bantul sebagai fasilitator kegiatan labursi
membantu remaja memahami dan memiliki konsep diri yang sehat, dan karakter. Kemudian mengenal potensi diri dan mampu menyusun harapan hidup secara lebih jelas.
"Harapannya bisa membantu meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pendidikan dan risiko pernikahan dini," jelasnya.
Penyuluhan reproduksi di sekolah inklusi sangat penting. Demi memastikan bahwa semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, mendapatkan informasi yang relevan dan dapat diakses tentang kesehatan reproduksi.
"Semua anak berhak mendapatkan pengetahuan yang sama, termasuk di sekolah inklusi," jelasnya.
Kata dia, materi penyuluhan disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan masing-masing siswa. Melibatkan penggunaan metode pengajaran yang berbeda, seperti visual, audio, atau praktik langsung.
"Tim fasilitator labrusi merupakan Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kabupaten Bantul," terangnya.
Dalam praktiknya, menggunakan bahasa yang sensitif dan inklusif agar semua siswa merasa nyaman dan tidak terpinggirkan.
"Kami didampingi oleh guru inklusi dan pihak terkait, untuk menangani berbagai kebutuhan dengan empati dan pemahaman," ucapnya.
Pihaknya bersyukur, respon siswa sangat antusias dan menjadi tambah percaya diri dalam interaksi. Harapannya kedepan mampu membawa diri baik di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
"Pencegahan nikah dini di sekolah inklusi perlu pendekatan komperhensif," tegasnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin