Dibukanya kelas ini jadi inovasi yang dilakukan guna menjawab kebutuhan industri.
Perlu diketahui, bahwa kelas industri baja di SMK SMTI ini jadi yang pertama kali dibuka di seluruh Indonesia bagi tingkat SMK, dan dalam prosesnya SMK SMTI bersinergi dengan PT Krakatau Posco.
Kepala pusat pengembangan pendidikan vokasi industri Wulan Aprilianti Permatasari menyebut, pembentukan kelas industri baja jadi perwujudan komitmen dari kementerian perindustrian (Kemenperin) dan mitra industri untuk memenuhi kebutuhan SDM unggul dan kompeten.
"Permintaan dan kebutuhannya ini sangat tinggi, jadi pembukaan kelas industri baja ini sangat dibutuhkan," katanya, Kamis (25/7).
"Harapannya ini bisa membantu kebutuhan SDM di industri, utamanya di sektor manufaktur agar industri nasional terus maju," sambungnya.
Mewakili Kemenperin, Wulan membeberkan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan penuh pada kelas industri baja tersebut, beberapa hal mulai dari pengawasan, hingga penyaluran SDM ke industri jadi hal yang akan dilakukannya.
"Kami totally support dan monitoring penuh, bahkan lulusannya nanti kami pastikan langsung terserap ke industri," serunya.
Dijelaskan bahwa kelas industri baja yang baru dibuka ini merupakan pilot project.
Ke depannya, dicanangkan akan ada kelas-kelas lain yang dibuka.
Bahkan hal serupa juga akan diaplikasikan ke sekolah-sekolah lain yang ada di bawah naungan Kemenperin.
"Baja itu salah satu kontributor terbesar di industri, otomatis SDM yang dibutuhkan juga banyak. Jadi target kami ada kelas-kelas industri selanjutnya," pesannya.
"Kemenperin itu punya 9 SMK, 11 Politeknik dan 2 Akademi Komunitas. Itu kami dorong juga agar kelas industri baja ini bisa terus sustainable," imbuhnya.
Adapun, beberapa kelebihan kelas industri baja meliputi jaminan magang dan kesempatan bekerja di PT Krakatau Posco, kurikulum dan tim pengajar yang langsung bekerjasama dengan PT Krakatau Posco, hingga mata pelajaran yang telah disesuaikan dengan kebutuhan industri baja, serta adanya mata pelajaran Bahasa Korea untuk persiapan magang siswa.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMK SMTI Yogyakarta Rr. Ening Kaekasiwi merinci, untuk angkatan pertama pada kelas industri baja di SMTI akan mengakomodasi sebanyak 20 siswa.
"Angkatan pertama ini 20 siswa, itu sesuai rekomendasi dan kebutuhan dari industrinya," tuturnya.
Ening juga berkomitmen untuk bisa menjalankan program kelas baru tersebut secara maksimal, kendatipun ia juga menyadari bahwa hal tersebut bukan perkara mudah.
"Ini pilot project, jadi kami upayakan yang terbaik, dan untuk menjaga itu tidak mudah. Kami berkomitmen menjalankan kelas ini sebaik mungkin," bebernya.
Ia berujar, beberapa aspek fundamental meliputi soft skill, mental, hingga fisik siswa akan jadi hal yang ia optimalkan.
Hal tersebut untuk memastikan bahwa siswa terkait siap dan kompeten untuk masuk ke industri.
"Soft skill itu sangat penting, kami sangat concern membangun itu, agar siswa kami siap dan layak masuk industri," katanya.
Menyoal serapan siswa SMK ke industri, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan, 100 persen lulusan dari unit pendidikan vokasi yang berada di bawah naungan Kemenperin akan langsung diterima untuk bekerja di sektor industri, termasuk juga siswa-siswa lulusan SMK SMTI.
Agus juga menilai bahwa kualitas pendidikan vokasi di bawah Kemenperin sudah bagus dan ideal secara pelaksanaan.
Ia turut berharap aspek kuantitasnya baik program kelas atau SDM bisa terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan SDM industri.
"Kualitas pendidikan vokasi milik Kemenperin sudah sangat baik. Tapi perlu ditambah dari sisi jumlah atau kuantitasnya," pesannya.
Ia menambahkan, bahwa kebutuhan SDM yang unggul dan kompeten di sektor industri terus bertambah secara signifikan, menurutnya ini jadi hal yang positif, sebab menunjukkan signifikansi sektor industri di Indonesia yang terus maju.
"Industri kita sedang mengalami pertumbuhan pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri terus terjadi," tandasnya.
Editor : Bahana.