JOGJA - Teknologi artificial intelligence (AI) bisa menjadi alat pendidikan yang ampuh jika digunakan secara bertanggung jawab, bijak, dan cerdas. Sebaliknya, AI dapat berubah menakutkan jika tidak dikelola dengan baik.
Hal tersebut disampaikan oleh pemerhati AI dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Lusia Marliana Nurani, Ph.D. Dia mengibaratkan AI seperti sebilah pisau.
"Penggunaan AI misalnya seperti ChatGPT yang sangat populer saat ini dapat dipandang menakutkan di satu sisi. Namun di sisi lain AI merupakan hal yang baik," kata Lusia Marliana Nurani pada Selasa (23/7/2024).
AI atau kecerdasan buatan memang mencerminkan namanya. Kecerdasan yang orisinil ada di tangan pencipta AI yaitu manusia.
"Penggunaan AI pun sangat ditentukan oleh manusia.
Misal ketika menggunakan ChatGPT," ujarnya.
Kualitas keluaran yang dihasilkan ChatGPT tergantung input dari penggunanya. Jika pengguna hanya mengandalkan AI tanpa melibatkan pemikiran kritis dan kecerdasan mereka sendiri, hasilnya akan biasa-biasa saja.
"Namun, ketika pengguna menggabungkan pemikiran kritis, pengetahuan, dan wawasan yang luas, input yang mereka masukkan ke AI akan menghasilkan output yang luar biasa," ucapnya.
Secara pribadi pihaknya memandang AI bukan sebagai ancaman. Seperti halnya saat kalkulator elektronik mulai marak dipakai di tahun 1960an. Pada saat itu kalkulator dianggap sebagai alat yang mengancam potensi siswa.
"Dikhawatirkan terlalu bergantung pada kalkulator yang akan berakibat siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan aritmatika dan bahkan menghambat pemahaman siswa tentang konsep dasar matematika," ungkapnya.
Terlepas dari kekhawatiran ini, seiring berjalannya waktu, kalkulator bisa diterima secara luas sebagai alat penting untuk proses belajar, terutama dalam matematika tingkat lanjut.
"Karena kalkulator dapat membantu dalam memecahkan soal-soal kompleks secara lebih efisien," bebernya.
Kekhawatiran beberapa dekade lalu ternyata bisa diatasi melalui integrasi yang seimbang dengan memastikan bahwa siswa tetap belajar dan mempraktikkan keterampilan dasar sambil memanfaatkan manfaat teknologi.
"Demikian halnya dengan AI. AI pun memerlukan keseimbangan antara pemanfaatan AI dan upaya menumbuhkan pemikiran kritis dan kreativitas," terangnya.
AI harus dipandang sebagai alat yang melengkapi proses belajar dan bukan sebagai sandaran utama. Semua pihak perlu mendorong para siswa maupun mahasiswa untuk menggunakan AI secara bijaksana dan kritis. Dengan cara seperti itu kita dapat memanfaatkan potensinya sekaligus memitigasi risiko.
"Kuncinya terletak pada pengimplemetasian AI yang dapat memberdayakan mereka untuk menjadi pembelajar yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab," tegasnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin