RADAR JOGJA - MPLS jangan dijadikan senior sebagai ajang untuk menekan dan mengecilkan mental peserta didik baru. Sudah saatnya MPLS dapat menjadi tempat aman dan nyaman untuk tumbuh berkembang baik akademik maupun nonakademik.
Hal itu diungkapkan pengamat pendidikan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Ir Reo Sambodo. Itu linier dengan arahan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti).
"MPLS hendaknya dipahami dan diimplementasikan sebagai sarana pengenalan program, tata kelola, sarana dan prasarana, cara belajar serta penanaman konsep diri dan pembinaan awal kultur sekolah," ujarnya.
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMBY ini melanjutkan, melalu MPLS berbagai kegiatan nonakademik dapat tersalurkan. Dapat dilaksanakan secara menyenangkan, sekaligus meningkatkan motivasi peserta didik baru dalam memasuki kehidupan akademik.
"Ada baiknya MPLS bukan hanya melibatkan peserta didik baru, namun juga membutuhkan kesadaran penuh orang tua untuk mengenali lingkungan sekolah dari putra putrinya," jelasnya.
Dari sini orang tua dapat menjadi sistem kontrol dan terlibat dalam ekosistem pendidikan untuk mewujudkan lingkungan aman dan nyaman baik disekolah maupun di rumah. "Sehingga MPLS bukan dijadikan ajang untuk menekan dan mengecilkan mental peserta didik baru dalam ranah senioritas di sekolah," ucapnya.
Dalam pelaksanaan MPLS, institusi pendidikan perlu berkolaborasi dengan berbagai kalangan profesional seperti psikolog, PPA, UPTD dan puskesmas. "Agar berbagai materi seperti penanganan kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual perundungan dan diskriminasi di sekolah dapat tersampaikan dengan baik," jelasnya. (gun/laz)
Editor : Satria Pradika