RADAR JOGJA - Meski memiliki keterbatasan dalam dirinya, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Siham Hamda Zaula untuk terus maju dan meraih cita-citanya. Salah satunya sukses digapai. Menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
FAHMI FAHRIZA, Sleman
Memakai baju merah, Silham baru saja sampai di kampus. Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM angkatan 2019 ini berangkat dan pulang kuliah setiap hari dengan mengendarai sepeda. Dari kosanya di kawasan Condongcatur, Depok, Sleman.
Terlihat biasa saja. Tapi menjadi istimewa saat tahu mahasiswa yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah itu didiagnosis menderita Autisme Asperger. Sudah sejak ia SD. Secara sekilas, tidak terlihat jika ia menjadi penyandang autis. Kita baru akan tahu jika ia autis saat berbicara dengannya.
Bicaranya pun kadang masih terbata-bata, dan sesekali harus diulangi agar lebih jelas. "Saya tidak suka dengar suara keras, saya lebih banyak beraktifitas mandiri dan tidak melibatkan banyak teman," katanya, Kamis (4/7).
Untuk mensiasati kekurangannya, dalam proses belajar ia selalu duduk di bangku depan saat kuliah berlangsung. Ia juga mengaku sangat terbantu dengan adanya komunitas UKM Peduli Difabel yang ada di lingkup kampus. "UKM Peduli Difabel itu sangat membantu, saya juga dibantu saat memilih lokasi KKN dulu," jelasnya.
UGM, kata dia, punya lingkungan yang kondusif bagi mahasiswa difabel. “Tidak ada kendala bagi penyandang disabilitas di sini," imbuhnya.
UGM sendiri, secara umum juga memberikan fasilitas dan pelayanan yang setara bagi mahasiswa difabel. Bahkan, seperti Siham sendiri oleh fakultas juga diberikan dukungan dengan menyiapkan fasilitasi supporting system seperti menyediakan buddy (teman) atau mentor.
Siham sendiri saat ini sudah memasuki semester akhir. Ke depannya setelah lulus kuliah ia memproyeksikan untuk berwirausaha sesuai dengan bidang akademik yang dijalaninya."Setelah lulus pengen-nya berwirausaha dalam penggemukan kambing atau domba," tandasnya. (pra)