Selain bermanfaat di dunia kerja, sertifikat kompetensi juga sangat mendukung ketika masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
Ketua LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Triana Quari Sedyasthi mengatakan uji kompetensi berbagai bidang keahlian siswa dimulai sejak 2014.
SMK SMTI Yogyakarta memiliki tiga konsentrasi keahlian, yakni Teknik Kimia Industri, Kimia Analisis, Teknik Mekatronika.
"Setiap konsentrasi keahlian memiliki skema sertifikasi masing-masing," kata Triana Quari Sedyasthi, Selasa (25/6/2024).
Untuk Kimia Industri menggunakan skema sertifikasi kompetensi KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) level 2.
Kimia Analis menggunakan skema sertifikasi kompetensi KKNI level 3.
"Sementara jurusan teknik mekatronika memiliki dua skema yakni, skema okupasi untuk pelaksana pemeliharaan mekanik dan skema okupasi pelaksana pemeliharaan sistem kontrol dan instrumentasi," ujarnya.
Nah, tahun ini LSP SMK SMTI Yogyakarta kembali menguji para siswa untuk mengetahui kompetensi sesuai bidangnya.
Pada sertifikasi level internasional menggandeng pihak ketiga.
Jurusan Kimia Analisis dan Kimia Teknik Industri bekerjasama dengan PT. Vapro Internasional Belanda.
"Kemudian jurusan Mekatronika bekerjasama dengan PT. Siemens Jerman," ungkapnya.
Dari sini siswa akan diuji sesuai standar internasional masing-masing jurusan. Berupa ujian teori, outputnya adalah berupa sertifikat.
"Sertifikat itu nantinya menjadi nilai tambah bagi siswa kami ketika akan masuk ke dunia kerja dan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi," ujarnya.
Sementara itu Kepala SMK SMTI Yogyakarta Rr Ening Kaekasiwi mengatakan uji kompetensi merupakan salah satu dasar bagi sekolah untuk meminta sertifikat berlambang Garuda dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
"Harapannya dengan adanya sertifikat BNSP yang dimiliki dari lulusan SMTI Yogyakarta menambah nilai plus bagi mereka dalam bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan ke perguruan tinggi," kata Rr Ening Kaekasiwi.
Disinggung mengenai evaluasi program sertifikasi kompetensi, menurutnya ada pengalaman menarik.
Ada siswa belum sampai melaksanakan uji kompetensi sudah diterima bekerja.
"Ini merupakan perubahan di dalam proses kami melaksanakan uji kompetensi," ucapnya.
Lalu pihak sekolah mendesain uji kompetensi dilakukan setiap jenjang.
Tidak hanya diakhir tahun pembelajaran atau kelas XII tetapi mulai kelas X.
"Sehingga nanti sampai terakhir ketika tidak memenuhi yang goalnya, sudah punya skills passport di bidangnya masing-masing," ungkapnya.
Maka sebelum berangkat PKL siswa mengikuti sertifikasi Bahasa Inggris berupa TOEIC (Test of English for International Communication) mulai dari preparation, prediction test hingga official test dari ETS (Educational Testing Service).
Sertifikasi TOEIC dapat menjadi bekal dan nilai tambah bagi siswa untuk bekerja di perusahaan multinasional dan internasional.
Mengutip keterangan dari Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, secara keseluruhan atau 100 persen lulusan dari unit pendidikan vokasi di bawah Kemenperin langsun diterima kerja di sektor industri.
Rata-rata penambahan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri sebanyak 600-700 ribu per orang.
Hal itu juga menunjukkan bahwa sektor manufaktur semakin bergeliat, tidak sedang mengalami deindustrialisasi, karena meningkatnya
penyerapan tenaga kerja. (gun)
Editor : Bahana.