RADAR JOGJA - Sampah secara umum masih jadi salah satu isu krusial yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di DIY setelah ditutupnya TPA Piyungan. Alhasil, kini terdapat banyak penumpukan timbunan sampah di lokasi pembuangan sementara.
Dalam rangka membantu mengatasi persoalan sampah yang ada, Direktorat Kemahasiswaan UGM berinovasi dengan mengembangkan program kewirausahaan sosial (sociopreneur) mahasiswa untuk menangani masalah sampah dalam lingkup masyarakat.
Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan UGM Hempri Suyatna mengatakan, Sociopreneur ini jadi langkah konkret UGM untuk mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan solusi inovatif dan kreatif.
"Semoga ini tidak hanya melatih mahasiswa dalam konteks bisnis, tapi juga kepekaan pada isu sosial, khususnya persoalan sampah," katanya Minggu (23/6).
Dalam merealisasikan bisnis sosial terus berkembang dan menjadi startup, Direktorat Kemahasiswaan siap memberi dukungan. Baik melalui pelatihan, pendampingan, pengembangan jejaring, monitoring, dan evaluasi.
Hempri merinci, saat ini terdapat 49 tim yang mendaftar seleksi program Sociopreneur UGM. Namun nantinya, hanya akan dipilih sembilan pemenang. “Dapat pendanaan dan pelatihan dari mentor yang kompeten di bidangnya masing-masing,” tuturnya.
Disebutnya, pendanaan yang akan diberikan bertujuan untuk mendukung implementasi proyek-proyek inovatif yang mereka usulkan. Sementara pendampingan yang disediakan mencakup bimbingan dari para ahli dan praktisi di bidang sociopreneurship. Untuk memastikan bahwa setiap tim mampu mewujudkan visi mereka dengan baik.
Salah satu judul yang dipilih adalah Usaha Biover Center. Usaha ini menawarkan inovasi pemanfaatan dan budi daya maggot yang diterapkan dalam konsep sosial zero waste dengan mengolah limbah organik jadi maggot kering bernilai jual tinggi. Dalam prosesnya, limbah organik seperti sisa makanan dan bahan organik diolah dan dijadikan pakan bagi maggot, kemudian diubah jadi produk bernilai ekonomi tinggi.
"Selain budi daya maggot, mahasiswa juga ciptakan suplemen protein hewan ternak berbahan dasar maggot dengan harga terjangkau," ungkapnya.
"Suplemen itu membantu peternak meningkatkan kesehatan dan kualitas hewan ternak melalui pemberian suplemen," sambungnya.
Hempri menambahkan, dalam prosesnya mahasiswa juga terus berinovasi, salah satunya memanfaatkan limbah bulu ayam untuk menciptakan produk pupuk organik yang ramah lingkungan melalui usaha bernama PLUMIX.
"Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah bulu ayam, tapi juga menghasilkan pupuk berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi pertanian organik," bebernya.
"PLUMIX ini mencerminkan semangat kewirausahaan mahasiswa mencari solusi berkelanjutan dan memberi kontribusi positif terhadap lingkungan," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika