RADAR JOGJA - Konsep sekolah inklusif masih dijalankan oleh SDN Vidya Qasana. Sekolah ini pun terus berkomitmen untuk menerima kategori anak berkebutuhan khusus (ABK) pada PPDB mendatang.
Kepala sekolah SDN Vidya Qasana Dewi Rakhmawati mengatakan, saat ini sudah ada 10 siswa ABK yang berada di Vidya Qasana. Terbagi dari kelas 1 hingga kelas 6.
"Rata-rata siswa ABK di sini kategori slow learning, secara fisik sama seperti siswa umum, namun kemampuannya memproses dan menerima materi berbeda," katanya kemarin (4/6).
Dalam praktiknya, dikatakan bahwa ada guru pendamping khusus. Menangani para siswa ABK yang didelegasikan dari unit layanan disabilitas (ULD) Jogjakarta. "Para guru juga belajar, dari pendekatan yang lebih humanis ke mereka, sampai capaian dalam kelas juga kami sesuaikan," ungkapnya.
Pada momentum penerimaan peserta didik baru (PPDB) mendatang, Dewi mengaku bahwa pihaknya siap untuk kembali menerima siswa ABK. Dia pun tak terlalu mempermasalahkan apa kategori ABK yang akan mendaftar.
"Semua jenis ABK bisa kami terima, tapi memang selama ini belum ada ABK yang konteksnya fisik seperti tuna daksa," paparnya.
Dalam proses pembelajaran yang dilakukan, siswa ABK seringkali mendapat sesi khusus dengan guru pendamping. “Untuk tahu proses hingga kendalanya, durasinya rata-rata satu jam," sebutnya.
Ke depannya, Dewi sendiri berharap, akan lebih banyak sekolah yang mengadopsi konsep inklusif. Pun dengan guru pendamping untuk menangani siswa ABK di sekolah.
“Mengenyam pendidikan formal ini hak semua anak, termasuk ABK," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika