Dekan SV UGM Prof Agus Maryono mengatakan, salah satu output yang ingin dicapai melalui festival ini adalah menampilkan karya inovasi dan kreativitas para mahasiswa SV. Selain itu, juga diharapkan mampu menyeimbangkan antara aspek teori dan praktik mahasiswa.
"Kami harap mahasiswa bisa jadi tenaga ahli terampil yang inovatif, dan berdaya saing tinggi di tingkat global," katanya kemarin (21/5).
Menurutnya, kompetensi yang dibutuhkan industri saat ini sudah sangat kompleks. Hal tersebut secara tidak langsung juga membuat mahasiswa lulusan vokasi harus punya daya saing dan kompetensi diri yang mumpuni.
"Kami dorong generasi masa depan untuk menjadi manusia yang inovatif, produktif, kolaboratif, dan solutif," serunya.
Agus berharap, Inovokasia bisa menjadi contoh atau barometer bagi sekolah vokasi lain. Khususnya untuk mewujudkan karakter anak muda yang tidak hanya kuat teori. Tetapi juga hebat secara praktik.
"Selain itu juga harus bisa memberi solusi tepat pada setiap permasalahan," bebernya.
Chief Program Officer GIK UGM Garin Nugroho meyakini, sekolah vokasi punya peranan penting bagi masa depan Indonesia. Karena banyak mencetak lulusan yang memiliki keterampilan praktis dan dibutuhkan dunia kerja.
"Tantangannya meningkatkan keterampilan gen Z yang jumlahnya 60 persen di Indonesia," pesannya.
"Salah satu pemantiknya melalui Inovokasia 2024 ini, yang kami proyeksikan jadi agenda reguler," sambungnya.
Festival ini nantinya akan digelar hingga 2 Juni. "Ada eksebisi, kompetisi, movie day, dan musik yang menggabungkan teknologi dan estetika," ungkapnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika