Agenda tersebut melibatkan anak-anak kelas 4 SDN Purworejo, Pakem, Sleman, dan dilangsungkan di kawasan desa wisata Pulesari, Sleman.
Keempat mahasiswa tersebut tergabung dalam satu kelompok bernama tim Banyu dan progam Njogo Banyu sendiri adalah implementasi lebih lanjut karena mereka berhasil lolos dalam pitching lomba bertajuk Water Resilience Program dari UNESCO.
Aiko mengatakan, bahwa secara garis besar program UNESCO tersebut adalah mewadahi para peserta untuk menciptakan solusi berupa alat atau infrastruktur hingga aktivitas menjaga air yang edukatif.
Dalam implementasinya, tim Banyu memilih anak-anak SDN Purworejo untuk terlibat dalam program mereka.
"Kami pilih SDN Purworejo karena kebetulan mereka juga berada di bawah kaki gunung merapi, dan penting untuk diedukasi terkait air ini," katanya pada Radar Jogja, Kamis (25/4).
Dikatakan, bahwa sosialisasi dan edukasi untuk menjaga lingkungan dan air bersih jadi aspek yang menurut tim Banyu jadi concern penting.
Karena, anak-anak SD tersebut ke depannya akan menjadi agen perubahan dan diharapkan mereka bisa menjaga lingkungan secara umum, termasuk entitas air dalam lingkungan itu sendiri.
"Targetnya anak-anak di SD, mereka itu long life learning, semoga apa yang mereka dapat sekarang bisa membekas sampai mereka dewasa," ujar Aiko.
Lebih lanjut, Aiko juga menyampaikan, bahwa lomba dari UNESCO tersebut diikuti oleh negara-negara tingkat ASEAN dan dimulai kurang lebih sejak Januari 2024 lalu.
Awalnya tim Banyu lolos dalam 25 besar tim, sampai akhirnya kini terkurasi menjadi 7 besar.
"Sekarang ini kami masuk di 7 besar, lalu akan dikerucutkan lagi menjadi 3 besar untuk ikut World Water Forum di Bali pada bulan Mei," tuturnya.
"Tentu kami berharap program yang kami gagas bisa berlanjut dan ikut serta pada forum di Bali mendatang," imbuhnya.
Penuturan lain datang dari Fathur, ia membeberkan bahwa implementasi lebih jauh yang akan dilakukan tim Banyu adalah membuat buku yang isinya terkait edukasi seputar air.
"Kami nanti akan buat buku, author nya dari kami berempat dan materinya kini sudah siap 100 persen juga," ungkapnya.
Fathur memproyeksikan, bahwa salah satu pihak yang akan diberi buku tersebut nantinya adalah SDN Purworejo, dan diharapkan bisa dijadikan alat bantu ajar bagi para siswa.
"Materinya nanti kami sesuaikan dengan kurikulum yang ada, harapannya jadi buku ajar tambahan untuk anak-anak SD," lontarnya.
Sementara itu, guru pendamping SDN Purworejo Suwarno mengaku bahwa inisiatif program dari tim Banyu sangat penting bagi siswa-siswinya, karena edukasi yang dilakukan lebih menyenangkan dan dibalut dengan permainan.
"Ini bagus, belajar dan bermain. Kebetulan yang ikut ini semua kelas 4, ada 27 siswa," terangnya.
Suwarno menyampaikan, dipilihnya anak kelas 4 sendiri bukan tanpa alasan, karena di sekolah anak-anak kelas 4 juga sudah mendapatkan materi terkait daur air, yang mana hal tersebut juga relevan dengan program tim Banyu dari UII.
"Selain ada materi itu di sekolah, penerimaan mereka juga sudah cukup paham dibanding anak kelas 1 atau 2," tandasnya