Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gali Potensi Siswa lewat Gerakan Literasi Sekolah, Serta Bisa Ciptakan Ekosistem Pembelajaran yang Lebih Kondusif

Sevtia Eka Nova • Senin, 8 April 2024 | 14:10 WIB

 

ANTUSIAS: Siswa SMP Stella Duce 2 Jogjakarta saat mengikuti program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
ANTUSIAS: Siswa SMP Stella Duce 2 Jogjakarta saat mengikuti program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

 

RADAR JOGJA - Inovasi pembelajaran berbasis pengenalan dan penggalian potensi diri siswa dilakukan oleh SMP Stella Duce 2 Jogja. Mlalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Stella Duce 2 Anastasia Beni Indrawati mengatakan, GLS merupakan program rutin sekolah setiap satu minggu sekali. Dilakukan pada Senin sebelum memulai pembelajaran formal. Agar anak-anak bisa rileks sebelum memulai belajar.

"Durasinya 30 menit, diikuti semua rombel. Program GLS ini sudah lama dilakukan, dan output-nya kami fokuskan pada penguatan literasi numerasi riset (linuris)," jelasnya beberapa waktu lalu.

Anastasia menjelaskan, implementasi program GLS sangat bervariasi. Salah satunya adalah mengajak siswa untuk mengeksplorasi buku yang mereka sukai, dan membacanya bersama-sama.

"Ada yang soal wayang, ensiklopedia, dan IT sesuai passion mereka," ungkapnya.

Tak sekadar hanya membaca, setelah itu para siswa juga diminta untuk membuat resensi. Atau membuat pernyataan dari buku-buku yang mereka baca. Dengan harapan ada pemikiran kreatif dan kritis yang disalurkan oleh para siswa.

Dikatakan, ada guru penggerak linuris yang difokuskan untuk mendukung program GLS tersebut. Tujuannya agar menstimulus potensi dan kemampuan para siswa. Sehingga mereka bisa menyampaikan pendapatnya.

"Ada feedback dan diskusi dari siswa. Misal menulis resensi buku, kita batasi dua paragraf, jadi anak juga lebih kreatif dan kritis dalam mengenali kompetensi dirinya," tuturnya.

Contoh lain dari penerapan GLS adalah sesi bahasa Inggris dan numerasi. Anastasia mencontohkan, dari guru penggerak menyiapkan soal bahasa Inggris. Lalu anak-anak disajikan infografis dan diminta untuk mencari tahu hal tersebut. Setelah selesai mengerjakan, ada diskusi yang terjadi antara guru dan siswa, atau siswa dengan siswa lainnya.

"Soal numerasi bukan berfokus pada penggunaan rumus, tapi membiasakan numerasi dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa," lontarnya.

Dia menilai, GLS tersebut merupakan program yang memang penting untuk dilakukan. Karena bisa menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih kondusif dan menyenangkan.

"Kita datang dari passion mereka dulu, supaya siswa senang. Sehingga memulai pembelajaran lebih rileks," tandasnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#Gerakan Literasi Sekolah #SMP Stella Duce 2 Jogja