RADAR JOGJA - Pramuka sudah tak lagi menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah sudah diterapkan sejak 2010. Tepatnya saat keluarnya UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Tapi di Kota Jogja peminatnya tetap tinggi.
Ketua Kwartir Cabang (Kakwarcab) Gerakan Pramuka Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, Peraturan Mendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah sudah sesuai dengan UU.
Yaitu mewajibkan satuan pendidikan untuk memiliki gugus depan.
"Kan sejak UU Kepramukaan nomor 12 tahun 2010 memang begitu, sejak 2010 memang sukarela," katanya Senin (1/4).
Meski hanya bersifat sukarela tapi, pria yang akrab disapa HP itu menyebut, minat kepramukaan di Kota Jogja tetap tinggi.
Terbukti setiap kegiatan kepramukaan baik di tingkat siaga, penggalang, penegak dan pandega masih banyak diminati para siswa sekolah.
Bahkan dahulu sekolah yg meraih kejuaraan setiap lomba hanya langganan dari sekolah itu-itu saja. Kini, sudah mulai banyak sekolah atau gugus depan yg bisa ikut unjuk gigi utk meraih prestasi.
"Begitu pun juga pesat siaga maupun penggalang juga masih banyak," ungkapnya.
Bahkan predikat pramuka Garuda di Kota Jogja, yang ditarget 100 per tahun, selalu jauh melebihi. Pada 2023 lalu mencapai 170-an.
Sebelumnya malah bisa mencapai 200 lebih. Predikat garuda adalah predikat tertinggi ketrampilan anggota pramuka di setiap jenjangnya.
Wakil Wali Kota Jogja periode 2016-2021 itu menambahkan, sejak UU Kepramukaan no 12/2010 memang pramuka bersifat sukarela.
Tetapi peminatnya tetap banyak. Sebab orang tua masih percaya bahwa dengan pendidikan kepramukaan itu memberikan kesempatan kepada putera-puterinya untuk hidup mandiri, belajar tentang ketrampilan hidup, survival, tidak mudah putus asa, mampu menjalin kerjasama dalam regu.
"Bahkan orang tua sering menyampaikan, deny berlatih kepramukaan itu melatih anak-anaknya untuk bisa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan terus bisa membantu orang lain," jelasnya.
Kwarcab Kota Jogja, lanjut HP, memang sejak awal selalu menyampaikan pendidikan ketrampilan adalah pendidikan soft skill dan lige skill.
Sebuah ketrampilan hidup yg mungkin sudah jarang diperoleh para siswa dalam proses belajar mengajar.
Kwarcab Kota Yogyakarta selalu menekankan bahwa kemampuan akademik atau IQ, harus dibarengi dengan ketrampilan emosional, ketrampilan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan kemampuan inteligensi, emosional dan spiritual itulah yang akan menentukan keberhasilan setiap orang dalam meniti karirnya.
"Dan itulah yang selama ini, Pramuka dalam setiap kegiatannya berusaha menguatkan ketrampilan hidupnya. Jadi akan selalu menguatkan dan melengkapi ketrampilan inteligensi yang diperoleh setiap siswa," paparnya.
Editor : Heru Pratomo