RADAR JOGJA - Universitas Sanata Dharma (USD) merespon dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) melalui program Ferienjob ke Jerman yang diarahkan ke kampusnya. USD mengaku pernah diajak kerjasama tapi urung dilakukan karena biayanya sangat mahal.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Universitas Sanatadarma Antonius Febri Harsanto mengatakan secara institusional USD tidak pernah bekerjasama dengan penggagas program Ferienjob di Jerman tersebut.
"Kami juga melakukan penelusuran internal, mahasiswa kami tidak ada yang ikut (Ferienjob ke Jerman)," kata Antonius Febri Harsanto Jumat (29/3).
Perihal masuknya nama kampus USD dalam daftar kampus yang diduga terlibat TPPO (tindak pidana perdagangan orang), pihaknya justru mengaku kebingungan.
"Itu data dari mana, kok bisa ada daftar USD (Universitas Sanata Dharma) di situ," ujarnya.
Dia menyayangkan, informasi miring mengenai USD masuk dalam daftar dugaan TPPO sudah terlanjur beredar luas namun dengan sumber yang tidak jelas. "Sejauh penelusuran internal kami secara personal atau mandiri itu tidak ada. Toh biayanya tinggi, tidak cocok dengan profil mahasiswa kami," jelasnya.
Hanya diakui, sekitar satu tahun lalu pernah ada penawaran program Ferienjob. Namun pada saat itu kampus menolak karena pembiayaan terlalu mahal dan tidak bisa menjamin ketepatan waktu kelulusan.
"Jadi, mereka dulu pernah ngontak (menghubungi) kami melalui email, lalu mengundang presentasi tapi tidak kami tindaklanjuti," ungkapnya.
Bahkan penyelenggara program juga pernah mengundang Zoom meeting dan meminta sosialisasi kepada mahasiwa. Dalam perkembangannya pihak kampus tidak mengizinkan.
"Itu tidak bisa menjamin mahasiswa lulus tepat waktu dan biayanya mahal. Tidak cocok dengan mahasiswa, tidak cocok dengan visi kami," ungkapnya.
Selanjutnya USD memilih menunggu langkah dari kementerian terkait. Terlebih pasca munculnya isu ini, kementerian juga akan menjalin komunikasi dengan kampus-kampus.
"Kami siap berkomunikasi dengan kementerian. Sejauh ini belum ada (belum dihubungi)," terangnya.
Kembali dia menegaskan, USD tidak bekerjasama dengan lembaga yang terkait dengan program Ferienjob. Sejauh penelusuran internal, tidak ada mahasiswa USD yang mengikuti program tersebut.
"Namun kami terus masih melakukan penelusuran dan memastikan apakah ada mahasiswa USD yang mengikuti program tersebut," bebernya.
Seperti diberitakan Jawa Pos, fereinjob atau program magang ke Jerman dinyatakan oleh Kemendikbudristek tidak sesuai dengan program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM).
Kementerian tidak menemukan muatan pembelajaran dan peningkatan kompetensi dalam fereinjob di Jerman tersebut. Karena itu, pada Oktober lalu, Prof Nizam yang saat itu menjabat Plt Dirjen Dikti Ristek tegas menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai atau kriteria MBKM. (gun/pra)
Editor : Heru Pratomo