Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen Manajemen Keuangan UIN Sebut Cashless Society Masih Susah Diterapkan

Fahmi Fahriza • Jumat, 22 Maret 2024 | 03:09 WIB
KONSISTEN: Dosen Prodi Manejemen Keuangan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Izra Berakon.
KONSISTEN: Dosen Prodi Manejemen Keuangan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Izra Berakon.
 
JOGJA - Cashless society atau masyarakat nontunai yang mengaplikasikan sistem transaksi berbasis digital tanpa uang cash hingga kini masih terus digencarkan.
 
Namun, dalam prosesnya hal tersebut tidak sepenuhnya mudah dijalankan.
 
Dosen Prodi Manejemen Keuangan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Izra Berakon memaparkan, ada beberapa kendala yang menyebabkan cashless society belum bisa diterapkan sepenuhnya.
 
Antara lain, karena habit masyarakat Indonesia secara umum yang masih terbiasa bertransaksi secara tunai.
 
Hingga sosialisasi terkait transaksi nontunai yang belum sepenuhnya merata.
 
"Harus diakui sosialisasinya belum menyentuh semua kalangan, akar rumput yang belum terjangkau itu banyak sekali," katanya, Kamis (21/3).
 
Apalagi, secara umum transaksi nontunai juga memerlukan gadget sebagai alat bantu.
 
Selain itu, belum semua masyarakat aksesibel dan memilikinya.
 
"Secara garis besar tentu cashless itu hal yang relevan dan umum di kalangan anak muda, siswa dan mahasiswa," sambungnya.
 
Izra juga menambahkan, belum sepenuhnya masif penggunaan cashless juga ditengarai adanya praktik yang dilakukan oknum penjual dengan menambah biaya ketika pembayaran menggunakan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
 
"Ini pengalaman saya pribadi, ketika beli di UMKM pakai QRIS harus nambah Rp 1.000 atau Rp 2.000. Harusnya itu dibebankan pada penjual," terangnya.
 
Hal-hal tersebut yang menurutnya cukup mempengaruhi trafik pertumbuhan cashless society jadi belum sepenuhnya merata dan banyak orang akhirnya enggan menggunakan metode cashless.
 
Terpisah, Renata Faizati, salah satu mahasiswa yang cukup intensif menggunakan metode cashless, mengaku beberapa kali mendapati kasus penjual meminta penambahan biaya saat bertransaksi.
 
 
"Cukup sering sih, aku kira itu hal yang biasa dan emang ada aturannya. Ternyata belakangan baru tau kalo hal itu gak boleh," ungkapnya.
 
Namun Renata sendiri juga sejatinya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena menurutnya juga bisa membantu.
Apalagi, banyak penjual tersebut dominan datang dari UMKM.
 
"Kalo aku pribadi gapapa sih, sekalian bantu mereka juga walaupun sedikit," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad
#cashless society #Berbasis Digital #UIN