JOGJA - Menyandang entitas sebagai kota pelajar membuat DIY harusnya juga memberikan akses pendidikan yang setara kepada semua siswa.
Termasuk, kepada para siswa dengan kebutuhan khusus.
Dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIPP UNY Bayu Pamungkas mengatakan, secara umum pendidikan yang bersifat inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di DIY masih perlu dioptimalkan lebih lanjut.
Bayu merinci, dari data yang dihimpun olehnya per Desember 2023 ada sekitar 7.500 ABK yang terdata di DIY.
Dari jumlah tersebut, ada sekitar 5.073 anak yang bersekolah di SLB dan masih ada lebih dari 1.200 anak yang tidak sekolah.
SLB dinilainya jadi komponen penting, namun yang juga tak kalah penting adalah adanya sekolah inklusi yang memang menerima siswa ABK dalam lingkup sekolah formal dengan para siswa umum lainnya.
"Adanya sekolah inklusi itu penting, dan harapannya itu lebih dioptimalkan serta jumlahnya diperbanyak," katanya pada Radar Jogja, Rabu (13/3).
Ia menjelaskan, idealnya baik dalam SLB ataupun sekolah inklusi para pengajar maksimal harusnya menangani empat siswa ABK.
Namun, dalam prosesnya hal tersebut kurang terimplementasi dengan baik.
"Idealnya satu guru mengampu empat siswa dengan jenis ABK yang sama, tapi nyatanya tidak selalu seperti itu. Guru sering mengampu jumlah banyak dengan ABK yang beragam, itu tantangan tersendiri bagi guru," ungkapnya.
Disebutnya, hal-hal yang membuat konsep tersebut belum bisa terealisasi sepenuhnya antara lain adalah fakta bahwa tidak semua pengajar di SLB memiliki latar belakang pendidikan formal untuk menangani ABK.
Selain itu, juga regulasi yang belum mengatur jelas terkait aturan tersebut.
"Di SLB tidak semua guru lulusan PLB, jadi misal ada guru agama, guru seni. Mereka belum memiliki bekal ketika ditempatkan di SLB, ditambah karakteristik siswanya belum mereka kenal," terangnya.
Bayu turut berharap, bahwa ada regulasi yang secara jelas mengatur terhadap komponen pembelajaran bagi ABK.
Ia mencontohkan, salah satu hal yang juga perlu jadi sorotan adalah penggunaan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan ABK.
Ia menjelaskan, saat ini setidaknya ada dua metode bahasa isyarat yang umum dipakai di Indonesia, yakni Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang dibuat oleh pemerintah.
Diakuinya, secara kompleksitas SIBI jauh lebih kompleks dan susah untuk diimplementasikan daripada Bisindo.
Hal tersebut tidak saja membuat para ABK perlu belajar secara khusus, namun juga para pengajarnya.
"SIBI tidak banyak dipakai, tapi tetap diperkenalkan ke pembelajaran awal, karena SIBI terlalu kompleks dan lebih susah dipahami," tandasnya (iza)
Editor : Amin Surachmad