Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sosiolog UNY Soroti Peran Orang Tua Hingga Media Pengaruhi Tindakan Bullying Pada Anak

Fahmi Fahriza • Kamis, 29 Februari 2024 | 01:55 WIB
KONSISTEN: Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ariefa Efianingrum.
KONSISTEN: Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ariefa Efianingrum.

JOGJA - Kasus bullying yang dilakukan dan menimpa anak kembali terjadi akhir-akhir ini. Secara garis besar ada beberapa faktor yang melatarbelakangi dan mempengaruhi timbulnya perilaku bullying pada anak.

Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ariefa Efianingrum mengatakan, keluarga merupakan ekosistem pertama sebagai lingkungan terdekat anak yang mengemban peran penting dalam menanamkan berbagai nilai keutamaan.

"Disfungsi yang terjadi dalam keluarga menyebabkan proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai tersebut menjadi terhambat," katanya, Rabu (28/2).

Ia juga menuturkan, peer group sebagai circle pertemanan yang intensif melakukan interaksi sosial juga sangat berpengaruh terhadap pilihan tindakan anak.

Dalam konteks satuan pendidikan, kultur sekolah yang kurang kondusif juga bisa menyebabkan kasus bullying masih kerap terjadi di kalangan siswa.

"Bahkan, di era digital saat ini, sosial media hadir dan membentuk komunitas atau lingkungan sosial baru di dunia maya yang sering disebut sebagai online society," paparnya.

Lebih lanjut Ariefa menyampaikan, sosial media turut berfungsi dalam merepresentasikan realitas di dunia nyata. Namun, sekaligus mensimulasikan realitas semu di dunia maya.

Disebutnya, sosial media perlu diwaspadai  kehadirannya karena membawa serta dan mengekspose konten-konten yang mengandung berbagai nilai, menampilkan tindakan, dan menunjukkan simbol-simbol yang tidak semuanya bermakna positif bagi anak.

"Risiko negatif dari sosial media saat ini adalah menjadi inspirasi sekaligus menjadi ruang baru untuk memproduksi dan mereproduksi nilai, tindakan, dan simbol kekerasan," ujarnya.

Ia menilai, interaksi anak dengan media yang sangat intens bisa menyebabkan anak sulit memisahkan dan menjauhkan diri dari dari gadget.

Bahkan, dapat terjadi adiksi sosial media dan gadget jika penggunaannya tidak dibatasi.

Oleh karena itu, pembatasan penggunaan gadget untuk mengakses sosial media secara terus-menerus perlu dilakukan melalui kontrol sosial dan pembiasaan supaya anak berperilaku bijak dan kritis dalam bersosial media.

Ariefa menegaskan, mengalami bullying dapat menjadi sebuah pengalaman yang sangat buruk dan traumatis bagi anak. 

"Dampaknya mengkhawatirkan dan bervariasi bagi setiap individu, seperti dendam, stres, trauma, depresi, hingga percobaan melakukan bunuh diri," bebernya.

Pengalaman menjadi korban bullying di masa lampau juga menandakan bahwa nilai kekerasan telah dikenali sejak lama oleh anak.

Hal tersebut dapat berdampak pada normalisasi dan pembiasaan kekerasan.

"Anak bisa menganggap kekerasan bukan sebuah tindakan yang melanggar norma dan aturan, namun sebagai kebiasaan yang telah diakrabinya sejak lama," tandasnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#UNY #sosial media #bullying