JOGJA - Perkembangan teknologi digitalisasi yang serba cepat bisa jadi sirine bahaya bagi anak.
Apalagi, jika mereka tidak diedukasi terkait batasan dan hal-hal apa saja yang tidak atau belum boleh dilakukannya di era digital sekarang ini.
Dosen Pendidikan Guru Paud Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prayitno mengatakan, dalam konteks pendidikan, orang tua tentu punya peranan paling utama sebagai edukator.
Mereka juga memantau apa saja konten digital yang dikonsumsi oleh anak.
"Pondasi pertama anak adalah faktor didikan dari orang tua, sehingga anak akan membentuk karakter awal dari keluarga," katanya, Minggu (25/2).
Setelah orang tua, Prayitno menyebutkan, faktor yang juga mempengaruhi adalah lingkungan sekitar.
Anak-anak sekarang sangat mudah terpapar dan mudah pula mengakses berbagi konten di sosial media atau di platform digital tanpa adanya pembatasan.
"Perlu diketahui anak-anak saat ini termasuk generasi alpha, generasi yang lahir saat perkembangan teknologi tumbuh pesat," sambungnya.
Ia meyakini, anak tidak bisa serta merta disalahkan ketika mengkonsumsi konten-konten yang secara konteks negatif.
Sebab, banyak dari mereka belum memahami sepenuhnya dan belum memiliki filter untuk memilah konten. Orang tua yang memiliki filter dan tugas monitoring.
"Kita sebagai orang dewasa dan orangtua harus membimbing, mengawasi, dan memfilter teknologi yang diakses anak-anak. Sehingga mereka tidak mengkonsumsi konten-konten negatif," pesannya.
Sebagai pendidik, ia cukup khawatir dengan paparan digitalisasi yang sedemikian cepat.
Ia memetakan, secara psikologis apa yang anak-anak konsumsi dan terima hari ini akan mereka bawahingga dewasa.
Ini turut berdampak pada pembentukan karakter mereka.
"Konten apa yang mereka konsumsi, bagaimana cara bergaul, berteman dengan siapa, gaya hidup seperti apa, itu akan mempengaruhi bagian karakter anak ketika dewasa, jadi preventif harus dilakukan sedini mungkin," lontarnya.
Terpisah, salah satu orang tua Bayu Indrawan mengaku resah dengan perkembangan putrinya yang saat ini duduk di bangku SMP.
Bayu memaparkan, kekhawatirannya datang karena banyak berita kenakalan atau bahkan kejahatan remaja yang dilakukan melalui sosial media.
Sebagai orang tua, dia mengaku tidak seratus persen bisa melakukan monitoring. Hal itu juga tidak cukup relevan dengan berbagai perkembangan teknologi hari ini.
"Anak saya gak suka di cek HP-nya gitu, saya sebagai orang tua, ya, takut kalau dia lihat hal yang enggak-enggak," keluhnya.
Sejauh ini langkah preventif yang dilakukannya adalah berusaha terbuka dan memposisikan dirinya sebagai seorang teman bagi anaknya.
Hal tersebut diyakininya penting dilakukan untuk membangun keterbukaan sang anak.
"Caranya saya ajak ngobrol terus, saya tanya soal sekolahnya hingga teman-temannya, biar dia mau terbuka ke kita sebagai orang tua," tuturnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad