KULON PROGO - Sejak pagi hari, SMAN 2 Wates sudah ramai didatangi oleh orangtua atau wali murid, Selasa (20/2).
Sekolah yang terkenal dengan nama SMADA ini, sedang menjalankan 2 kegiatan dalam 1 hari.
Kegiatan pertama berkaitan dengan parenting yang melibatkan orangtua dan wali murid, sedangkan kegiatan kedua yaitu Unjuk Karya Seni Budaya.
"Hari ini kami melaksanakan dua agenda sekaligus, yaitu parenting dan unjuk karya," ucap Kepala SMAN 2 Wates Vipti Retna Nugraheni, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Selasa (20/2).
Vipti menjelaskan, kegiatan parenting yang diadakan di SMADA bertujuan mengajak orang tua untuk bersama-sama dalam membentuk karakter anak.
Menurutnya sekolah dan orangtua harus berkolaborasi, terutama di tengah era globalisasi agar anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.
"Perlu peran guru dan orangtua, dalam mengawal perkembangan anak," ucapnya.
Dalam kegiatan parenting, orangtua mendapatkan sharing dalam pembentukan karakter anak. Karakter anak harus didasari pada budi pekerti dan akhlak yang tertanam di sanubari. Dan Tak hanya berkutat pada menjejalkan ilmu pengetahuan saja.
"Kegiatan ini sesuai dengan visi SMADA Wates, yaitu Terwujudnya Insan Religius, Berkarakter, Unggul, Berbudaya dan Peduli Lingkungan," jelas Vipti.
Adanya kegiatan parenting diharapkan mampu menciptakan sinergitas antara pihak sekolah dengan orangtua.
Turut hadir pada acara parenting, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Kulon Progo Wahib Jamil sebagai narasumber pada kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, kegiatan seperti parenting sangat dibutuhkan. Mengingat peran orangtua dan sekolah yang sangat krusial.
"Kami mengapresiasi kegiatan ini, karena potensi anak perlu dikembangkan bersama-sama," ucap Wahib.
Wahib menuturkan, orangtua yang hadir dalam acara tersebut diharapkan mendukung perkembangan potensi anak.
Ia menegaskan, peran orangtua tak hanya mendidik melainkan juga memberikan kesempatan bagi anaknya.
Dengan adanya kegiatan parenting, Wahib berharap orangtua mampu memahami dan memberikan kesempatan bagi anaknya, terutama usai tamat sekolah.
"Parenting yang kami berikan, mengarah pada pendidikan karakter dan nilai keagamaan, karena merupakan pondasi kokoh bagi anak," ucap Wahib.
Tak hanya kegiatan parenting, SMADA mengadakan Unjuk Karya Seni Budaya, yang melibatkan siswa.
Siswa melakukan pertunjukan seni budaya, seperti seni tari di kombinasi dengan seni pertunjukan.
Salah satu pertunjukan seni yang menarik, adalah pertunjukan dari salah satu kelas yang mengangkat tema Anoman.
Pertunjukan tersebut memperlihatkan lakon Anoman dalam pewayangan. Siswa yang bertugas sebagai penari dan aktor pertunjukan cukup terampil dalam menjalankan lakon tersebut.
Terlihat gerakan setiap siswa serempak dan penuh konsep.
Tak hanya gerakan, siswa mempersiapkan busana, alat peraga, makeup, dan setting panggung. Hal ini menambah unsur pertunjukan bak studio teater dalam ruangan besar.
"Setiap kelas mempertunjukkan penampilan, di kelas kami kebetulan ada 36 siswa dan semua ikut terjun dalam pertunjukan," ucap Yosawa, siswa yang ikut dalam pertunjukan.
Yosawa menuturkan, dirinya dan teman sekelas mempersiapkan pertunjukan sejak 3 bulan sebelum pertunjukan.
Ia dan kawannya membuat busana dan alat. Sebagian busana disewa dan kemudian dikombinasikan dengan pernak-pernik tambahan yang dibuat oleh teman-temannya.
"Ini bukan perlombaan, sehingga tidak ada menang kalah, tapi kami sangat antusias dengan pertunjukkan ini," tuturnya.
Menurutnya, antusias yang ia rasakan juga terlihat di kawan-kawannya. Yosawa melihat, adanya kegiatan ini mampu mewadahi kreatifitas sekaligus potensi siswa.
Tak hanya tentang kreatifitas, mnurut Yosawa kegiatan pertunjukkan merupakan bentuk pembuatan memori masa putih abu-abu yang patut dikenang.
Senada dengan Yosawa, Santi Purnama Dewi salah satu orangtua siswa yang ikut dalam pertunjukan mengungkapkan apresiasinya atas kegiatan tersebut.
Ia mengaku tertarik dengan pertunjukan siswa karena mangangkat seni dan kebudayaan.
"Antusias, melihat penampilan siswa, terutama tari dan unsur budaya yang mencoba mengangkat budaya di Kulon Progo," ungkap Santi.
Santi menjelaskan, dirinya tak keberatan dengan adanya kegiatan tersebut. Ia menjelaskan, anaknya yang ikut dalam pertunjukan juga tak merasa keberatan ataupun mengeluh. Bahkan sangat totalitas dalam mengerjakan pertunjukan.
Ia menambahkan, kegiatan ini menggugah benaknya tentang potensi yang dimiliki anaknya. Sehingga, ia berharap akan adanya kegiatan parenting dan unjuk karya yang dilakukan setiap tahunnya.
Editor : Bahana.