SLEMAN - Empat mahasiswa kedokteran UGM berhasil menggagas pengembangan larvasida alami yang ramah lingkungan sebagai upaya untuk menekan kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan memanfaatkan limbah kulit mangga.
Mereka adalah Santi Andriyani, Salman Hafiz Ar-ramli Lubis, Jessica Edelyne, dan Nisa Munawwarah
Mereka adalah mahasiswa FK-KMK UGM angkatan 2021.
Santi menjelaskan, larvasida adalah zat yang digunakan untuk membunuh larva serangga seperti nyamuk yang biasanya digunakan di tempat-tempat tumbuhnya larva.
"Kami bermaksud membuat larvasida alami yang secara konsep tidak merusak lingkungan," katanya pada Radar Jogja, Minggu (28/1).
Disebutnya, mangga dipilih karena terdapat senyawa aktif dalam kulit buah mangga yang potensial dikembangkan sebagai zat untuk membunuh larva nyamuk.
Oleh sebab itu, mereka terdorong mengembangkan kulit mangga sebagai larvasida alami.
Gagasan yang diusung empat mahasiswa yang tergabung dalam tim Mango Skin for Organic Sustainable Aedes Insect Control
(MOSAIC) tersebut berhasil menghantarkan mereka sebagai finalis dalam kompetisi Internasional Bio-Circular-Green economy (BCG) yang diselenggarakan oleh Kasetsart University, Thailand.
Dikatakannya, gagasan penggunaan limbah kulit buah mangga sebagai larvasida alami tidak hanya menjadi alternatif dalam membantu pencegahan kasus DBD
Namun, juga berkontribusi dalam mengurai persoalan lingkungan dengan mengolah limbah yang sebelumnya hanya menjadi sampah bagi lingkungan.
Santi mencontohkan, pada tahun 2020 total produksi mangga di Thailand mencapai 1,66 juta ton.
Itu menunjukkan adanya potensi besar limbah sampah kulit mangga di negara tersebut.
"Ini membuat kami berpikir bahwa limbah kulit mangga di Thailand memiliki potensi untuk mengatasi persoalan yang ada. Selain itu, Thailand sendiri merupakan salah satu produsen mangga terbesar di dunia,” sebutnya.
Sementara itu, Salman menambahkan, ide pengembangan larvasida alami berangkat dari keprihatinan mereka terhadap laporan dari WHO mengenai meningkatnya lonjakan tajam kasus DBD secara global.
Ia menyebut, lonjakan wabah DBD turut ditandai dengan peningkatan signifikan dalam jumlah, skala, dan peningkatan kasus.
Bahkan, WHO menyatakan terjadinya lonjakan wabah saat ini diikuti dengan penyebaran ke wilayah yang sebelumnya belum terpapar DBD.
"WHO mencatat di Asia Tenggara, terutama di Thailand, prevalensi kasus DBD pada 2023 meningkat tajam menjadi lebih dari 300 persen dari tahun sebelumnya," paparnya.
Hal tersebut membuat mereka sepakat untuk memilih kulit mangga sebagai opsi penekanan kasus DBD.
Disebutnya, dalam kulit mangga juga terdapat senyawa flavonoid, saponin, serta tanin yang berpotensi digunakan sebagai larvasida.
"Flavonoid bisa mengganggu sistem saraf dan pernapasan larva, saponin bisa menjadi racun lambung kuat pada serangga, tanin mampu menghambat enzim pencernaan," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad