Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Apa Yang Membuat Sejumlah Lulusan S2 dan S3 Indonesia Kalah Bersaing dari Negara Tetangga, Ini Penjelasannya...

Bahana. • Kamis, 18 Januari 2024 | 19:05 WIB

 

Photo
Photo

RADAR JOGJA – Presiden RI Joko Widodo mengungkapkan bila jumlah lulusan pascasarjana di Indonesia masih lebih rendah dari negara tetangga yakni Veitnam dan Malaysia.

Jokowi pun mengatakan pemerintah berupaya mengambil langkah untuk mengejar ketertinggalan ini, tujuannya agar jumlah lulusan S2 dan  S3 naik secara drastis.

Tak hanya itu, Jokowi turutmenyoroti pentingnya pembiayaaan pendidikan dan riset secara optimal tidak hanya dari APBN dan APBD tapi juga pemanfaatan dana abadi di miliki pemerintah.

Dana abadi sendiri merupakan dana bersifat abadi yang di tunjukan untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi berikutnya dan tidak dapat di gunakan untuk belanja.

Pada 2010, pemerintah menginvestasikan dana abadi sebesar Rp 1 Triliun dan terus di kumpulkan sampai saat ini.

“Dan rasio penduduk berpendidikan S2 dan S3 terhadap populasi produktif itu juga masih sangat rendah sekali kita ini, saya kaget juga kemarin dapat angka ini saya kaget, Indonesia itu di angka 0.45 persen, negara tetangga kita Vietnam, Malaysia sudah di angka 2,43 persen. negara maju 9,8 persen, jauh sekali.” ucap Jokowi dalam pembukaan konvensi kampus XXIX dan temu tahunan XXV forum rektor Indonesia (FRI), Senin (15/01/2024).

Rendahnya minat warga Indonesia untuk mengejar pendidikan pascasarjan bisa jadi di pengaruhi oleh beberapa faktor :

  1. Minimnya lapangan kerja yang membutuhkan gelar pascasarjana selain nbidang riset
  2. Dunia kerja di Indonesia juga tidak memberikan remunerasi maupun reward yang berbeda anatara lulusan S1 dan S3
  3. Jenjang S2 dan S3 juga membutuhkan investasi waktu, tenaga dan uang namun ekosistem dunia kerja Indonesia dinilai tidak memberikan hasil yang setimpal supaya “Investasi” tersebut bisa”balik modal”

Di sisi lain sebagaimana dilansir Lowy Institute tantangan terbesar dalam bidang pendidikan di Indonesia bukan lagi soal meningkatkan akses, tetapi lebih pada meningkatkan kualitas banyak guru dan dosen Indonesia yang kurang memahami ilmu pengetahuan yang di ajarkan dan keterampilan untuk mengajar secara efektif.

Selain itu hasil belajar siswa Indonesia buruk dan adanya kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki sarjana Indonesia dengan kebutuhan pemberi lowongan pekerjaan.

Tidak hanya itu, Hasil riset dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) mengungkapkan bahwa lulusan sarjan Indonesia juga kadang merasa malas buat mencari kerja karena mereka baru lulus.

Beberapa dari mereka ingin menikmati waktu senggang sebelum masuk ke dunia kerja 

Dikutip dari Center For Indonesian Policy Studies (CIPS) faktor penyebab sistem pendidikan di Indonesia belum optimal karena kualitas pengajar yang rendah, kualitas riset yang rendah, kualitas sumber daya manusia yang rendah, sistem pemerintahan yang kurang baik, keterbatasan dalam otonomi akademik dan manajemen. (Renal Fabriansyah/Radar Jogja)   

Editor : Bahana.
#Kualitas Rendah #joko widodo #Pendidikan #Jokowi #s2 #s3