SLEMAN - Kisah inspiratif datang dari Rivaldy Bram Waromi yang berhasil diwisuda belum lama ini oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Rivaldy merupakan wisudawan asal daerah 3T (terdepan, terpencil, terluar) Indonesia.
Rivaldy berhasil lulus dari Program Studi Pendidikan Dokter UGM. Pemuda kelahiran tahun 2000 ini menempuh pendidikan di FKKMK UGM dengan menggunakan beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik) dari Nabire, Papua Tengah.
Rivaldy mengaku tidak mudah belajar di FKKMK UGM. Dia mengalami kesulitan belajar Ilmu Kedokteran.
Di awal, nilainya tidak memuaskan. Namun dia berupaya dan terus berjuang.
Baca Juga: Polda Jateng Siapkan 279 Pospam saat Nataru
”Saya harus rutin berkonsultasi dengan psikiater untuk menumbuhkan kembali motivasi belajar. Belajar di kedokteran sangat sulit, apalagi yang tidak minat 100 persen tentunya mengalami kesulitan juga dalam beradaptasi," ujarnya Senin (18/12/2023).
"Sistem belajar di kedokteran berputar dan bergerak maju sangat cepat,” imbuhnya.
Dia menyadari pentingnya profesi dokter di daerahnya. Pelayanan kesehatan sangat diperlukan di Nabire.
Maka, semangatnya belajar berhasil tumbuh. Apalagi dia ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Baca Juga: Bahaya TikTok Challenge Makan Tahu Panas Bisa Sebabkan Kerongkongan Terluka
Meski lulus dengan menempuh 10 semester, dia tetap bangga dan bersemangat untuk mendedikasikan ilmunya melayani warga Nabire. Relasi dan koneksi juga terus dibangun agar jaringan dan ilmu dapat terus diperbaharui.
”Ini peristiwa yang saya tunggu, terkadang masih belum percaya dengan capaian ini. Jauh saya dari Nabire, Papua akhirnya lulus, Puji Syukur,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan minat awal ialah belajar seni setelah lulus Sekolah menengah Atas (SMA).
Apalagi sering diremehkan dan tidak ada yang percaya bisa diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Dia mengaku ragu namun orangtua selalu mendorong dan memotivasi.
”Saya ditentang untuk pilih seni, orang tua mendorong untuk kedokteran. Saya tes dan saat pengumuman ternyata saya lulus pada pilihan pertama. Saya pun kuliah di Program Studi Kedokteran sampai sekarang, dan kini saya menjalani koas,” jelasnya.
Lulus tes Prodi Kedokteran tidak lantas membuat perjuangan berhenti. Rivaldy masih harus berjuang mendapatkan beasiswa.
Dia mengaku tidak mudah bisa lolos seleksi beasiswa jalur afirmasi karena harus bersaing dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Peminat beasiswa juga terus mengalami peningkatan.
Rivaldy berusaha menyicil nilai rata-rata yang baik sejak semester satu di bangku SMA. Agar bisa lolos beasiswa Adik.
Baca Juga: Ini Spesifikasi Mobil Listrik Seres E1 yang Sudah Diproduksi di Indonesia
Dia juga tekun mengikuti kursus pada mata pelajaran yang kurang dikuasainya.
Setelah pendidikan co-asst, Rivaldy berencana kembali ke Nabire setelah lulus menjadi dokter.
Dia juga berencana mendalami Ilmu Obstetri dan Ginekologi, dan bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah dan kandungan.
Dia juga bercita-cita mengembangkan pendidikan jenjang SD, SMP dan SMA di Papua Tengah.
Dia berharap agar anak-anak di Papua Tengah memiliki kesempatan yang sama dalam belajar. (lan/bah)
Editor : Bahana.