GUNUNGKIDUL, RADAR JOGJA - Salah satu sekolah negeri di wilayah perbatasan Gunungkidul-Sukoharjo, Jawa Tengah akan di regrouping.
Yakni, SDN Ngentak di Ngentak, Candirejo, Semin terpaksa ditutup karena mengalami krisis murid.
Jogoboyo Kalurahan Candirejo Hartono mengkonfirmasi hal tersebut.
Dia mengatakan, kebijakan penutupan aktivitas lembaga pendidikan SDN Ngentak telah disosialisasikan. Kemudian para pelajar dipindah ke sekolah terdekat.
“Hari Jumat minggu lalu pak lurah mendapat undangan terkait dengan regrouping SDN NGentak,” kata Hartono Selasa (12/12).
Dikatakan, regrouping terpaksa dilakukan karena anak didik di sekolah tersebut bisa dihitung dengan jari.
Agar pembelajaran lebih optimal pihak terkait menurunkan kebijakan penggabungan ke sekolah lain.
“Setau saya total jumlah murid hanya 15 anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul Hary Sulaksana mengatakan, wacana regrouping SDN Ngentak sudah melalui kajian matang.
"Telah ada Surat Keputusan (SK) dari bupati. Penggabungan ke sekolah lain dilakukan paling lambat sampai 2 Januari 2024," kata Hary Sulasana.
Dia menginformasikan, alasan penggabungan karena jumlah peserta didik sangat minim. Dari kelas 1 sampai dengan kelas enam hanya berjumlah 15 siswa.
Bahkan untuk kelas 5 kosong alias tidak ada muridnya.
Baca Juga: KREATIF !!! Minim Lahan Pertanian, Kota Magelang Bisa Kembangkan Urban Farming
"Terlebih sarana dan prasarana sekolah sudah tidak representatif," ujarnya.
Menurut dia, kurangnya jumlah murid jelas mempengaruhi perkembangan sekolah.
Tidak bisa mengakses Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Pusat karena ada ketentuan minimal jumlah murid sebanyak 60 anak.
"Kami telah menyiapkan sekolah pengganti bagi siswa SDN Ngentak. Rencananya digabungkan ke SDN Candirejo 1," jelasnya.
Namun jika wali murid atau siswa menghendaki sekolah lain, pihaknya mempersilakan. Mengenai nasib guru, kata Hary Sulasna, juga digeser ke sekolah lain.
Kepastian penempatan menunggu kebijakan lanjutan.
“Sekarang fokus terhadap regrouping. Kemudian guru, aset-aset yang dimiliki juga didata ulang,” ungkapnya. (gun/bah)
Editor : Bahana.