Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Potensi Banjir Bandang Ada di DIY dan Perlu Diwaspadai

Wulan Yanuarwati • Kamis, 7 Desember 2023 | 20:42 WIB

Pakar Manajemen Air Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono / Radar Jogja - Wulan Yanuarwati
Pakar Manajemen Air Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono / Radar Jogja - Wulan Yanuarwati

RADAR JOGJA - Pakar Manajemen Air Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono mengatakan, selama kurun waktu 20 tahun, tidak ada banjir bandang di wilayah DIY.

Meski begitu, tetap harus diwaspadai saat musim penghujan. 

"Sampai sekarang ini kira-kira 20 tahun ini ya kita itu belum mendengar ada banjir bandang di DIY," ujarnya, Kamis (7/12/2023).

Agus menilai, apabila dilihat dari jenis sungai di DIY, ada potensi besar untuk banjir bandang.

Misalnya saja, daerah sungai di Kulonprogo kerap longsor dan sungai di daerah Sleman yang terkena sumbatan sedimen Gunung Merapi juga berpotensi banjir.

Baca Juga: Pemangku Pemerintah Tingkat Desa di Purworejo Tak Netral, Bisa Dipenjara 1 Tahun Hingga Denda Rp 12 Juta

"Di sungai-sungai kecil di sepanjang kota yang terutama, yang tebing-tebing curam (juga perlu diwaspadai). Contohnya misalnya code itu tebingnya curam," jelasnya. 

Potensi longsor bisa terjadi di wilayah tersebut di atas. Maka, Agus merekomendasikan agar pemerintah daerah mengecek kondisi sungai secara rutin.

Termasuk bersih-bersih sungai dari material yang berpotensi membuat banjir perlu terus digiatkan.

Menyoal sumbatan sungai dari material sampah, Agus menilai sampah sejauh ini tidak sebabkan banjir bandang.

Sebab banjir bandang iitu membutuhkan massa yang besar. 

Menurutnya, sampah belum mampu membendung sungai hingga mencapai volume tertentu. Namun potensi banjir biasa akibat sumbatan sampah tak bisa ditampik.

Baca Juga: Film Wonka Sudah Tayang di Bioskop, Awal Mula Pabrik Coklat Terbentuk

"Jogja sudah bagus ya gerakan sungainya banyak. Perlu ditumbuhkan lagi oleh pemerintah daerah maupun pusat supaya setiap sungai itu ada kegiatannya komunitas susur sungai, kalau tidak ekonomi tidak berjalan ya berhenti lagi," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Bencana UGM, Muhammad Anggri Setiawan mengatakan pentingnya membiasakan diri mencatat dan mengukur hujan.

Debit air di sungai perlu dicatat berkala sehingga antisipasi bisa dilakukan.

"Budaya mencatat ini jangan hanya dilimpahkan pada pemerintah tapi kepada desa-desa harus bisa. Kalau hujan melebihi ambang batas ya (warning, red)," jelasnya.

"Di Gunungkidul pun perlu diantisipais, area yang dulu longsor, samping kanan kiri, kodisi seperti apa. Apakah sudah mutigasi atau dibiarkan begitu aja, ini yang sering kita lepas," lanjutnya. (lan/bah)

Editor : Bahana.
#UGM #Potensi Banjir Bandang