Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

6.715 Mahasiswa KIP-Kuliah dan ADik Khusus Warga Papua diterima oleh UGM hingga Anak PMI

Bahana. • Rabu, 15 November 2023 | 20:59 WIB
Wakil Rektor di Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM Arie Sujito
Wakil Rektor di Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM Arie Sujito

RADAR JOGJA – Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menekankan bahwa komitmennya dalam upaya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Salah satunya yaitu dengan memberikan ruang bagi mahasiswa penerima beasiswa program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

Wakil Rektor di Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM Arie Sujito mengatakan, pada saat ini jumlah mahasiswa UGM penerima KIP-Kuliah dan ADik mencapai 18,52 persen dari total mahasiswa yang ada.

Dengan detailnya, 6566 untuk KIP-Kuliah dan 149 beasiswa ADik. “Ini untuk 2023-2024 (semua angkatan, red)," ujarnya ditemui di dalam acara press tour Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kemendikbudristek, di Yogyakarta, pada Selasa (14/11).

Dia juga menegaskan bahwa KIP-Kuliah maupun ADik adalah bagian dari komitmen Negara di dalam pemerataan pendidikan dan juga mencerdaskan anak-anak bangsa.

UGM adalah sebagai salah satu institusi pendidikan yang memiliki tanggungjawab yang sama secara moral.

Maka tidak ada pembeda di dalam penerimaan mahasiswanya. Sebagai informasi, KIP Kuliah hanya diberikan untuk mahasiswa yang berasal dari sebuah keluarga yang kurang mampu secara ekonomi.

Sementara itu ADik diberikan tugas khusus untuk anak-anak Papua, anak-anak yang tinggal di daerah 3T, serta anak-anak yang pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri.

“Kita tahu mereka selama ini tereksklusi oleh ekonomi makro, maka kita harus melakukan afirmasi,” ungkapnya.

Sayangnya, kuota KIP-Kuliah pada tahun ini sedang mengalami penurunan dari pusatnya.

Setidaknya, ada sekitar 400 orang mahasiswa kurang mampu dan tidak lolos seleksi KIP-Kuliah.

Menanggapi hal ini, Arie mengatakan bahwa pihaknya langsung bergerak dengan cepat untuk mencarikan akses beasiswa untuk mereka. salah satunya yaitu dengan malalui himpunan alumni UGM.
Meskipun demikian, ia mengapresiasi adanya perubahan skema pada KIP-Kuliah yang kini semakin meluas jangkauannya.

Saat ini, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kemendikbudristek beri biaya pendidikan mencapai maksimal Rp 12 juta bagi prodi kategori A.

Sementara itu, prodi kategori B hanya maksimal Rp 4 juta saja. Hal ini menekankan bahwa mahasiswa yang tidak mampu juga berhak mengambil jurusan dengan akreditasi A seperti yang lainnya.

Tidak hanya itu, bantuan untuk biaya hidup kini sudah ditetapkan bedasarkan perhitungan besaran indeks dengan harga local masing-masing wilayah perguruan tinggi. Sehingga tidak di pukul rata.

“Saya mengapresiasi sekali. Sekalipun ada beberapa hal yang harus direfom juga, terutama dalam kecepatan dalam merespon problem-problem,” tegasnya.

Juan Anugrah Resmol, penerima beasiswa ADik Papua, mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa ini. Pasalnya, dengan malalui beasiswa ini membuat dia akhirnya bisa untuk kuliah di UGM.

“Kalau bukan karena ADik, mungkin saya tidak di UGM,” ujar mahasiswa asal Jayapura tersebut.

Ia sendiri sempat gap year sebelum akhirnya masuk di UGM pada tahun 2022.

Sebelumnya, ia juga sempat lolos pada seleksi masuk Universitas Indonesia (UI) tetapi karena keterbatasan dana untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) yang sudah ditetapkan, maka ia terpaksa harus mengundurkan diri.

Dia juga menyadari bahwa kondisi perekonomian keluarganya memang sangat terbatas.

Hal ini juga membuat orang tua Juan mendesak untuk dirinya masuk sekolah kedinasan. Dengan demikian, ia bisa terbebas dari segala macam biaya di perkuliahan.

Tetapi, ia akhirnya lolos beasiswa ADik dan juga bebas dari biaya perkuliahan di Fakultas Geografi UGM.

Bonusnya lagi, untuk biaya hidup pun juga ditanggung oleh pemerintah melalui beasiswa tersebut.

“Saya sangat bersyukur sekali,” ungkapnya. Ia sangat berharap, untuk anak-anak yang lain yang memiliki latarbekalang ekonomi yang pas-pasan bahkan untuk tidak putus asa. Lantaran ada banyak beasiswa yang telah disediakan oleh pemerintah untuk bisa kuliah.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Anugrah Amin Ignatius. Ia juga penerima beasiswa ADik yang berasal dari Biak Numfor, ia juga memiliki harapan yang sangat besar untuk bisa membangun Papua setelah lulus nanti. Dan ia ingin akses pendidikan juga bisa diarasakan secara merata untuk anak-anak di kampung halamannya.

“Saya paham, untuk kembali dan mengabdi tidak cukup dengan hanya lulus S1. Karenanya, saya berencana mengambil S2 nantinya,” ungkapnya. (Putri Aprilia Ningsih/ Radar Jogja)

Editor : Bahana.
#KIP #Mahasiswa #UGM #adik