RADAR JOGJA -- Aktivasi rekening Program Indonesia Pintar (PIP) masih jadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi siswa di daerah. Pasalnya, akses menuju kantor bank yang ditunjuk kerap tak mudah.
Seperti yang dialami siswa penerima PIP di SMA Negeri 1 Samigaluh di Kulon Progo, Jogjakarta. Mereka membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk pergi ke kota untuk mengaktifkan akun PIP-nya.
Padahal, Kepala Sekolah Samigaluh Sugeng dari SMA N 1 mengatakan bahwa ada banyak penerima PIP di sekolahnya. Jumlah siswa adalah 71.
Selain itu, mereka berasal dari keluarga yang tidak memiliki dana yang cukup untuk memiliki kendaraan.
"Aktivasi sebetulnya lancar. Tapi harus ke BNI Sentolo, sejam dari sini. Padahal anak-anak belum punya SIM, tidak punya motor. Jadi agak kesulitan," ujarnya ditemui dalam acara press tour pusat layanan pembiayaan pendidikan Kemendikbudristek, di Jogjakarta, Minggu (12/11).
Dia mengatakan, ada pembagian bank untuk pencairan di tiap jenjang. Untuk SMA dan SMK, aktivasi dan pencairan dilakukan melalui Bank BNI. Sementara, di wilayahnya tidak ada.
Sebetulnya, kata dia, pihak sekolah sudah membantu untuk memfasilitasi para siswa tersebut. Tetapi, dia tetap berharap adanya kemudahan yang diberikan bagi para siswa yang berada di daerah terpencil.
"Kami berharap, banknya mungkin disesuaikan dengan daerah. Karena akses untuk di desa itu kan BRI ya," ujarnya.
Diakuinya, impact dari PIP ini cukup besar bagi peserta didik di sekolahnya. Mereka jadi lebih fokus dalam belajar lantaran tak perlu lagi kepikiran soal biaya-biaya untuk kelengkapan sekolah.
Pada sejak awal pun, lanjut dia, pihak sekolah secara aktif mendata siswa-siswa yang kurang mampu agar bisa memperoleh beasiswa PIP ini. Dengan harapan, beasiswa ini membantu mereka bertahan dan tidak putus sekolah.
"Tapi, ternyata ada siswa yang benar-benar tidak mampu tapi tidak masuk DTKS (data terpadu kesejahteraan sosial, red) jadinya akhirnya mereka tidak bisa daftar," ungkapnya.
Hal ini, kata dia, kemungkinan lantaran dulunya masuk dalam kategori berkecukupan. lalu, orang tuanya meninggal atau terkena PHK sehingga perekonomiannya turun.
Atas kondisi ini, biasanya dari pihak sekolah akan melakukan pertemuan dengan orang tua siswa untuk menyampaikan kondisi mereka.
Kemudian membimbing mereka tekait hal-hal yang harus dilakukan.
Sehingga, anak-anak mereka juga bisa ikut didaftarkan tahun depan.
Lebih Fokus Belajar Usai Terima PIP Bayu M. Ridlo, 16, mengaku terselamatkan berulangkali oleh PIP.
Tidak sekali dua kali dia berniat untuk berhenti sekolah dan mulai bekerja demi bisa membantu orang tuanya.
Tetapi, keinginan itu pupus setelah dirinya menerima beasiswa PIP.
Meskipun nominalnya tidak terlalu besar, Rp 1 juta per tahun, minimal dirinya tidak perlu risau untuk membayar biaya pondok pesantren dan juga kebutuhan sekolah lainnya.
Ia tidak perlu merepotkan kedua orangtuanya. Hal ini memiliki efek yang besar pada kegiatan belajarnya. Bayu kini menjadi lebih focus belajar, dia pun berhasil masuk peringkat 10 besar.
"Lebih ke pikiran sih. Jadi lebih tenang. Sebelumnya kan mikir gimana dapat uang, gimana bayarnya nanti," tutur siswa kelas XI SMA N 1 Samigaluh tersebut.
Meski begitu, putra pertama pasangan Kuswanto dan Ngaliyah ini tetap menjalankan kerja sampingannya.
Ketika libur sekolah, dia biasanya menerima segala pekerjaan yang mampir padanya.
Misal jadi buruh petik cengkeh. Dia berharap, dengan kerja sampingan ini, keuangan keluarganya bisa sedikit terbantu. (Putri Aprilia Ningsih/ Radar Jogja)
Editor : Bahana.