RADAR JOGJA - Guru juga merupakan seorang intelektual yang turut dalam proses membangun peradaban sebuah bangsa. Termasuk mencari solusi dari krisis belajar yang terjadi. Salah satunya harus bisa mengubah peran guru selama ini.
Hal itu jadi salah satu yang mengemuka dalam acara "Ngkaji Pendidikan" bertema "Guru: Sang Intelektual Penyelamat Peradaban Bangsa" di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (4/11). Ratusan guru dan tenaga pendidikan yang tergabung dalam Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) berkumpul bersama.
Founder GSM Muhammad Nur Rizal mengawali dengan menyebut, terjadinya krisis belajar saat ini. Dia mengatakan, krisis belajar bisa ditengarai dengan guru maupun siswa cinta atau tidak dengan belajar. Salah satu cara untuk mengubahnya, guru harus berubah dengan menggelar kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. "Setelah kita kaji peran guru di masa lalu akhirnya ketemu, guru menjadi seorang intelektual," tuturnya.
Dia mencontohkan peran guru bangsa HOS Tjokroaminoto, yang dulu mengajak para anak-anak muda yang kos di rumahnya untuk berdialog. Hasilnya tumbuhlah para tokoh-tokoh besar yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya sang proklamator Soekarno. "Hasil dialog-dialog itu berhasil memantik kesadaran bangsa sebagai Bangsa Indonesia," katanya.
Rizal yang juga akademisi di UGM itu pun mengajak para guru dan tenaga pendidik yang tergabung dalam GSM, untuk berani merealisasikan ide gagasannya menjadi kenyataan. Sehingga diharapkan punya kemerdekaan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. "Menyadarkan peran guru itu intelektual, sehingga guru punya kemerdekaan untuk program kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan," jelasnya.
Co-Founder GSM Novi Poespita Chandra menambahkan, kegiatan "Ngkaji Pendidikan" kali ini berangkat dari refleksi peringatan Hari Guru dan Hari Pahlawan. Dua momentum yang berdekatan itu diharapkan menjadi tonggak menegaskan peran guru jadi subyek perubahan. Tak melulu membicarakan terkait kesejahteraan, atau sertifikasi. Karena itu meruapakan negara
"Tapi guru bangkit di hari guru dan hari pahlawan, menemukan sejarahnya, guru itu pantansnya menjadi pahlawan intelektual, dalam kapasitas memikirkan bangsanya," tegasnya.
Salah seorang guru yang tergabung dalam GSM Muh Ali Sodikin pun menyebut, tergabung dalam GSM membuatnya menemukan fakta realitas yang lain dalam dunia pendidikan di Indonesia. Yaitu dengan metode memanusiakan, memerdekakan, berbagi kabar baik, power full kebermaknaan. "Dengan pertemuan seperti ini kami bisa berdialog dengan guru lain anggota GSM dari seluruh Indonesia, berbagi pengalaman dan mendapatkan pencerahan dari founder GSM," katanya.
Editor : Heru Pratomo