RADAR JOGJA - Tiga peneliti dari UGM memanfaatkan mineral lempung sebagai katalis untuk mengolah kotoran sapi menjadi bio oil. Hasilnya bisa digunakan sebagai sumber energi alternatif.
Mereka ialah Hanifrahmawan Sudibyo dan Budhijanto dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, serta Adhika Widyaparaga dari Departemen Teknik Mesin dan Industri FT UGM.
Ketiganya berkolaborasi melakukan riset pengembangan katalis berbasis mineral lempung untuk mengolah limbah biomassa khususnya kotoran sapi. Berdasarkan data BPS, menunjukkan bahwa jumlah sapi potong di Indonesia lebih dari 19 juta ekor pada 2022.
"Jika diasumsikan bahwa setiap ekor sapi menghasilkan sekitar 87 kilogram kotoran basah setiap hari dengan kadar air 90 persen, maka secara keseluruhan terdapat sebanyak 570 juta ton kotoran sapi (wet basis) per tahun di Indonesia,” beber Hanif Jumat (13/10).
Sejauh ini, Hanif menyebut salah satu teknologi untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas ialah anaerobic digestion. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, sumber panas, dan sumber energi pembangkit listrik.
Namun, pengolahan menggunakan anaerobic digestion masih menyisakan residu. Yakni digestate berupa campuran basah matriks organik dan anorganik yang kaya serat lignoselulosa. Yang tidak dapat dicerna dan nutrisi yang komposisinya sangat bergantung pada karakteristik substrat yang diproses. Digestate ini biasanya dimanfaatkan sebagai pupuk dengan cara disebar langsung.
Namun, metode ini justru berpotensi melepaskan gas rumah kaca. Selain itu juga membentuk aerosol garam amonium yang dapat mencemari udara. Menyebabkan fitotoksisitas pada tanaman, serta menyebarkan patogen. Maka untuk memitigasi potensi ancaman terhadap lingkungan, diperlukan metode pengelolaan digestate yang lebih berkelanjutan.
“Salah satu proses yang dapat digunakan untuk mengolah digestate adalah teknogi hydrothermal liquefaction (HTL) atau pencairan hidrotermal,” ujarnya.
HTL merupakan proses termokimia untuk mengubah limbah biomassa basah termasuk digestate menjadi bio oil, padatan kaya karbon bernama hydrochar, dan produk samping fase air yang kaya nutrien. Proses HTL pada penelitian ini menggunakan sejumlah mineral lempung sebagai katalis.
Penelitian ini juga dilakukan melalui kerja sama dengan mitra peneliti dari Pontificia Universidad Católica de Chile (Chile) dan Pontificia Universidad Javeriana (Kolombia). Kolaborasi internasional ini berbuah manis dengan hasil penelitian yang diakui secara internasional melalui publikasi di di Industrial & Engineering Chemistry Research, jurnal Q1 terbitan dari American Chemical Society (ACS) pada 2023. “Harapannya penelitian ini bisa nantinya menghasilkan terobosan yang bermanfaat bagi industri-industri terkait,” ujarnya. (lan/eno)
Editor : Satria Pradika