Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hari Batik Nasional, Ratusan Siswa Olifant Belajar Membatik Langsung

Reren Indranila • Selasa, 3 Oktober 2023 | 02:37 WIB

 

APRESIASI BATIK: Para Siswa Olifant School Belajar Membatik di Keraton Jogja Senin (2/10). (WINDA ATIKA/RADAR JOGJA)
APRESIASI BATIK: Para Siswa Olifant School Belajar Membatik di Keraton Jogja Senin (2/10). (WINDA ATIKA/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA - Memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober 2023, ratusan siswa Olifant School Jogjakarta belajar langsung proses membatik di Komplek Keraton Jogja Senin (2/10). Ini diharapkan menjadi edukasi generasi muda untuk bisa lebih menghargai dan mengapresiasi batik sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb).

Penghageng Kawedanan Hageng Kridhomardowo Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro mengatakan, proses membatik dari ratusan siswa Olifant School menjadi upaya bersama untuk bagaimana mengenalkan proses membatik kepada generasi muda. Khususnya kepada anak-anak sekolah.

"Tujuannya supaya mereka lebih bisa mengapresiasi batik. Karena kalau tidak mencoba membuat batik biasane gampangke lihat batik seolah-olah biasa," katanya di Komplek Keraton Jogja Senin (2/10).

Kanjeng Noto sapaan akrabnya itu menjelaskan, anak-anak yang dari jenjang SMP dan SMA itu sengaja diminta membatik langsung dengan motif tertentu. Ini agar mereka merasakan sulitnya membuat satu kain batik yang tidak hanya dengan waktu singkat. Sehingga, tak hanya sekedar mereka mengetahui motif-motif saja melainkan ikut terjun dalam proses.

"Padahal untuk menjadi satu kain batik prosesnya panjang dan susah. Biar saja anak-anak ini merasa kesulitan membuat batik supaya mereka bisa mengapresiasi bahwa proses membuat batik cukup rumit, membutuhkan tenaga, pikiran, dan harus fokus," ujarnya.

Adapun, ratusan siswa yang terlibat belajar langsung membatik didampingi oleh 12 pembatik dari Keraton Jogja. Juga pendamping dari SMK Negeri 1 Kasihan Bantul (SMKI) Jogja yang tengah praktek kerja lapangan.

"Baru perdana ini kalau (anak sekolah) untuk membatik di keraton, karena sumber daya di keraton tidak terlalu banyak. Kalau misal komitmen dari sekolah tidak besar tidak mau menyediakan guru pendamping ya kita tidak mmpu menerima ratusan siswa. Ini memang komitmen harus dari kedua belah pihak, kami menyediakan tenaga ahli dan tempat," jelasnya.

Kendati begitu, Keraton Jogjakarta membuka peluang sekolah-sekolah lain di Jogja yang ingin melakukan pendidikan yang sama. Terlebih Keraton juga memiliki program pendidikan dengan masyarakat.

"Kita juga menyediakan guru bagi beberapa sekolah bahkan lembaga-lembaga yang bentuknya bukan sekolah juga kita menyediakan guru. Baik guru tari, karawitan dan lain-lain. Hanya khusus membatik ini cuma Olifan (School) yang punya ide untuk melakukan proses membatik di dalam keraton," tambahnya.

Olifant School Director Deasy Anriani mengatakan, motif batik yang dikerjakan para siswa adalah bertemakan gajah. Ini sesuai dengan maskot dari sekolah yang beralamatkan di Demangan Baru Condongcatur Depok Sleman. Motif yang dibuat di atas media kain berukuran syal 20X1,25 sentimeter itu dikombinasikan dengan motif-motif dari Keraton Jogja.

"Kita lakukan apapun yang bisa kita lakukan sekecil apapun untuk pelestarian budaya untuk menghasilkan hal besar. Karena anak-anak dimasa sekarang jarang sekali menggunakan batik. Sehingga membuat batik dengan tema gajah sesuai gajahnya Olifant," katanya.

Acara tersebut merupakan rangkaian dari acara sebelumnya yaitu workshop membatik sepekan lalu di sekolah. Sebelum para siswa terjun langsung membatik, mereka diajarkan teori dahulu untuk mengenalkan tentang batik, proses pembuatan, pengenalan spesifik batik Jogja dan lain-lain.

"Sekarang actionnya dengan anak-anak belajar membatik langsung. Dari sini ada rangkaian kegiatan ke malioboro bersama-sama menggunakan syal yang mereka buat supaya dipakai karnaval bersama," jelasnya.

Rencananya, pada 21 Oktober mendatang menjadi puncaknya para siswa akan turun ke jalan di sepanjang Malioboro untuk mengkampanyekan batik dengan mengenakan hasil karya batik yang dibuatnya. "Olifant sebagai bagian dari komunitas ingin mendukung local wisdom budaya khususnya batik apalagi ini pusatnya Jogja," terangnya.

Selain itu, hasil kain yang mereka batik berukuran syal itu juga nantinya wajib dipakai di sekolah setiap hari Jumat saat juga berseragam batik. Pemakaiannya sesuai kreasi dari masing-masing anak. Bisa digunakan sebagai ikat kepala, syal, gelang, ikat pinggang dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, ini untuk membentuk para siswa bangga terhadap buatan sendiri dan terhadap batik itu sendiri. Sehingga lebih bisa mengapresiasi.

"Setelah mereka belajar dari sumbernya langsung di keraton harapannya mereka bisa mewarnai komunitas dengan goal to action paling tidak masyarakat bisa mereka ajak mari mengenakan batik. Ini bisa menularkan ke semua kalangan," tambahnya.

Adapun, ratusan siswa yang terlibat membatik sebanyak 800 orang dari tingkat Paud hingga SMA. Dalam satu hari diisi dua sesi pagi dan siang, dilaksanakan selama 2 hari. (wia/ila)

Editor : Reren Indranila
#Keraton #Batik #Olifant School #Jogja