SLEMAN - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI Abdul Halim Iskandar atau akrab disapa Gus Halim menegaskan program pendidikan RPL bukan sekedar ajang mencari ijazah dan gelar. Namun, ilmu yang didapatkan harus berguna untuk membangun desa.
"Sejak awal saya berpesan bahwa program RPL desa tidak boleh menjadi ajang untuk mencari ijazah. Tidak boleh," tegasnya saat menghadiri acara wisuda 384 Aparat Desa Kabupaten Bojonegoro di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Minggu (17/9/2023).
Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dibentuk melalui Permendikbudristek No 41 tahun 2021. Tujuannya peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi. Sehingga indeks pembangunan dapat meningkat.
Fokus program ialah pengakuan atas pembelajaran yang diperoleh dari pendidikan formal dan nonformal maupun pengalaman kerja. Kemudian dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan formal dan penyetaraan dengan kualifikasi tertentu.
Program RPL pertama berhasil dilaksanakan oleh UNY, terbukti dari diluluskannya ratusan orang perangkat desa Bojonegoro. Dalam pelaksanaannya, UNY meluluskan dengan banyak indikator. Mereka tidak sekedar lulus dan mendapatkan ijazah S-1.
Gus Halim menilai UNY dalam menjalankan program pemerintah ini dilakukan secara serius. Melalui standar pembelajaran yang maksimal. Hal ini dibuktikan pada wisuda kali ini, ada tujuh orang yang belum bisa diluluskan. Menandakan bahwa standar yang telah dibangun UNY tidak bisa ditawar.
"Dan ini sudah dikawal UNY dan Perguruan Tinggi lain dengan membentuk gugus kendali mutu dan dibangun dengan Kementerian Desa," ujarnya.
Gus Halim memastikan pihaknya serius mengawal program RPL desa melalui gugus kendali mutu. Sehingga program ini tidak disalahgunakan dan hanya untuk ajang sekadar mencari gelar.
"Saya imbau dan ajak seluruh kepala daerah di Indonesia ayo lakukan upaya peningkatan SDM di wilayah masing-masing agar terjadi percepatan pembangunan," ujarnya.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sumaryanto mengatakan komitmen dalam mutu dan kualitas lulusan. Total perangkat desa program RPL Bojonegoro berjumlah 457 orang. Dalam pelaksanaannya berhasil diwisuda sebanyak 394 orang.
"Dalam proses perkuliahan ada yang wafat 3 orang, belum lulus 7 orang karena proses Tridharma perguruan tinggi yang kami lakukan. Bahkan saat ujian pun saya ikut terlibat menguji," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah mengatakan program RPL Desa berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebab aparatur pemerintahan desa merupakan bagian terpenting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa yang akuntabel, transparan, dan partisipatif.
"Capaian lima sektor pemenuhan layanan dasar di kabupaten Bojonegoro menjadi bukti bahwa masyarakat sudah terlayani dengan baik," ujarnya.
Selain itu, Anna menilai kemampuan dan keterampilan pengelola badan usaha milik desa mengalami perkembangan. Sehingga dihasilkan peningkatan pendapatan asli desa guna sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. (lan)
Editor : Amin Surachmad